Rasa lapar bisa membuat manusia meninggalkan jalan kebenaran

Cerita musang berbulu emas pada saat Yudhistira melakukan upacara “aswamedha yajna” (kurban kuda). Jauh sebelum padang Kuruksetra menjadi medan perang antara Pandawa dan Kurawa, hiduplah seorang brahmana. Ia hidup dari mengumpulkan sisa-sisa panen yang tertinggal di tegalan. Keempat orang itu hidup dengan cara tersebut. Setiap sore, mereka duduk berempat dan menikmati makanan yang mereka peroleh selama sehari itu. Ketika tidak mendapatkan sisa panen, mereka akan berpuasa sampai sore hari yang kemudian. Mereka tidak pernah menyimpan apa pun yang mereka peroleh untuk hari berikutnya. Mereka menjalani disiplin unchhawritti yang ketat.

Demikianlah mereka menjalani hidup mereka. Suatu hari ketika musim kering datang dan kelaparan melanda seluruh penjuru negeri. Tidak ada lagi orang yang mengolah tanah dan oleh karena itu tidak ada yang membajak sawah atau panen. Pendeknya tidak ada lagi sisa panen di tegalan. Selama beberapa hari keluarga brahmana ini kelaparan. Suatu hari, setelah berkelana ke sana ke mari menahan lapar, mereka berhasil mendapatkan sekantong tepung jagung. Seperti biasanya mereka duduk bersama-sama dan berdoa mengucap syukur kepada Yang Maha Kuasa. Setelah itu mereka membagi apa yang mereka peroleh secara adil. Kemudian, mereka duduk bersiap untuk menuntaskan rasa lapar. Persis pada saat itu, seorang brahmana masuk. Tampaknya ia sangat kelaparan. Melihat ada tamu, mereka segera bangkit berdiri dan menerimanya dengan baik. Mereka mengajaknya untuk ikut makan. Keluarga brahmana yang berhati murni itu sangat bahagia kedatangan tamu seorang brahmana. Bagi mereka ini adalah keberuntungan. Kata sang brahmana, “Brahmana yang terhormat, aku hanyalah brahmana miskin. Tepung jagung ini kami peroleh sesuai dengan jalan dharma. Mohon pemberian ini diterima. Semoga engkau diberkati.” Katanya sambil mengulurkan jatah makannya. Tamu itu langsung menghabiskan makanan itu dengan lahap. Tapi ia masih tampak kelaparan.

Melihat tamunya masih kelihatan lapar, brahmana itu sangat sedih. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan ketika istrinya berkata, “Tuanku, berikan juga jatahku. Aku akan gembira jika tamu kita bisa merasa kenyang.” Setelah berkata demikian, ia berikan bagiannya kepada suaminya supaya diberikan kepada sang tamu.

Kata suaminya, “Istriku yang setia, binatang buas, burung-burung, dan semua binatang merawat istrinya dengan penuh perhatian. Apakah manusia bisa bertindak lebih buruk? Aku tidak bisa menerima usulanmu. Hukuman macam apakah yang akan kuperoleh di kehidupan yang akan datang jika aku biarkan kau kelaparan. Engkau telah membantu dan melayaniku untuk menjalankan tugas suci kehidupan rumah tangga. Bagaimana mungkin aku membiarkanmu menderita seperti itu dan berharap berbuat kebajikan demi memberi makan seorang tamu. Tidak, aku tidak bisa menerima usulanmu.”

Jawab istrinya, “brahmana suamiku, engkau terpelajar dalam kitab-kitab sastra. Bukankah dharma, artha, dan semua kegiatan manusia semuanya sama bagi kita berdua yang telah menjalani hidup bersama? Lihatlah padaku dengan pandangan kasih dan berikan bagianku kepada tamu kita. Biarlah aku lapar seperti halnya engkau. Aku mohon jangan tolak pemberian ini.”

Akhirnya brahmana itu mengalah. Ia terima bagian istrinya dan ia berikan kepada sang tamu. Tamu itu langsung menyikat habis makanan yang diberikan. Tetapi ia masih tetap lapar! Brahmana miskin itu sangat sedih. Melihat kesedihan ayahnya, sang anak mendekat dan katanya, “Ini bagianku. Berikan kepada tamu kita yang tampaknya masih kelaparan. Aku akan gembira jika kita bisa menunaikan kewajiban kita.”

Sang ayah bertambah sedih. “Anakku, orangtua masih bisa menahan lapar. Rasa lapar yang dialami anak muda jauh lebih tidak tertahankan. Hatiku sulit menerima pemberianmu ini.”

Sang anak bersikeras membarikan bagiannya, “Seorang anak wajib merawat orangtuanya yang beranjak tua. Anak tidak berbeda dengan orangtuanya. Bukankah dikatakan bahwa orangtua terlahir kembali dalam diri anak. Aku mohon ayah mau menerima ini dan berikan kepada tamu kita yang lapar.”

“Anakku terkasih, kau sungguh berhati mulia dan kemampuanmu menanggung derita membuatku bangga. Terberkatilah engkau. Baiklah, aku terima pemberianmu!” kata ayah itu. Ia segera berikan bagian anaknya itu kepada sang tamu. Sang tamu segera menuntaskan makanan itu. Ia masih saja kelaparan! Brahmana, yang hidup dari mengumpulkan sisa panen yang tercecer itu, kebingungan.

Sementara ia kebingungan, tidak tahu apa yang mesti dilakukan, menantu perempuannya mendekatinya dan berkata, “Ayah, aku akan berikan bagianku juga. Mohon diterima untuk melengkapi kewajiban kita memberi makan pada tamu. Aku mohon ayah berkenan menerima dan memberkati aku, putrimu, supaya aku mendapat ganjaran yang lebih abadi.”

Ayah yang brahmana itu sedih tidak terkira. Katanya, “Oh, anakku yang berhati mulia, meskipun wajahmu sudah pucat dan badanmu kurus seperti ini, engkau masih saja mau memberikan bagianmu kepadaku supaya aku bisa berbuat kebajikan pada tamu kita. Jika aku terima pemberianmu, aku akan berbuat kejam. Bagaimana mungkin aku membiarkanmu gemetar kelaparan?”

Sang menantu tidak mau mengindahkan. “Ayah, engkau adalah tuan dari tuanku, guru dari guruku, dewa dari dewaku. Aku mohon Ayah berkenan menerima makanan ini. Bukankah seluruh badanku telah kupersembahkan untuk mengabdi pada tuanku? Ayah harus membantuku untuk berbuat kebajikan. Ambilah makanan ini, aku mohon.”

Setelah didesak-desak, akhirnya brahmana itu mau menerima bagian menantu perempuannya. Katanya, “Anakku yang setia, semoga engkau mendapatkan ganjaran yang setimpal.”

Sang tamu menerima bagian terakhir itu dengan suka hati. Ia segera habiskan makanan itu dan ia kenyang! “Terberkatilah kebaikan hati kalian, yang kalian berikan dengan niat murni dan dengan segenap kemampuan kalian. Pengorbanan kalian sungguh membuatku senang. Lihatlah di sana! Para dewa menurunkan hujan bunga untuk memberikan pujian pada pengorbanan kalian yang luar biasa. Lihatlah! Para dewa dan gandarwa turun ke bumi dengan kereta-kereta kencana bersama para pelayan untuk menjemput kalian ke surga. Pengorbananmu mendapat ganjaran surga bagi kalian dan leluhur kalian. Rasa lapar menghancurkan akal sehat manusia. Rasa lapar bisa membuat orang berpikiran jahat. Bahkan orang yang saleh sekalipun, karena rasa lapar, bisa kehilangan ketabahan hati. Tapi engkau, bahkan ketika lapar mendera, masih bisa menanggalkan keterikatan pada istri dan anak dan tetap memilih jalan dharma. Upacara Rajasuya dan upacara kurban kuda yang dilaksanakan dengan megah akan tampak tidak berarti jika dibandingkan dengan pengorbanan yang kalian lakukan. Lihatlah, kereta kuda sudah menantikan kalian. Naiklah dan berangkatlah ke surga.” Setelah berkata demikian, tamu misterius itu menghilang.

Iri hati: penyakit universal

Manusia yang paling bijaksana pun kadang masih terpengaruh iri hati dan oleh karena itu mengalami penderitaan. Begawan Wiyasa menceritakan sepenggal kisah hidup Brihaspati, guru para dewa kepada Yudhistira. Brihaspati adalah mahaguru semua ilmu pengetahuan. Ia telah mempelajari semua kitab Weda dan ilmu pengetahuan. Meskipun demikian, ia pernah dikuasai perasaan rendahan ini (iri hati, Red) dan dibuat malu olehnya.

Brihaspati mempunyai saudara muda, Samwarta. Ia juga orang yang berpengetahuan luas dan orang yang sangat baik. Karena alasan itu, Brihaspati merasa iri pada saudaranya. Di dunia ini, orang merasa iri pada orang lain karena orang lain lebih baik. Kemudian, orang tidak bisa menerima kenyataan. Hal ini sebenarnya aneh karena orang tidak perlu merasa menderita disebabkan kebaikan orang lain. Karena iri hati itu, Brihaspati mengusik Samwarta dengan berbagai cara. Ketika Samwarta tidak tahan lagi dengan gangguan Brihaspati, ia memutuskan untuk berlaku seperti orang gila dan berkelana dari satu tempat ke tempat lain. Dengan cara itu, ia bisa melepaskan diri dari siksaan kakaknya.

Setelah melakukan tapa brata yang sangat berat, Raja Marutta dari dinasti Ikshwaku mendapatkan anugerah dari Batara Kailasa sebuah tambang emas yang sangat besar di Himalaya. Dengan kekayaan yang diperolehnya, ia berencana menyelenggarakan yajna (upacara korban) agung. Marutta meminta Brihaspati untuk memimpin upacara tersebut. Tetapi, Brihaspati khawatir karena yajna itu Marutta akan mengalahkan para dewa, yang adalah murid-muridnya. Ia menolak permintaan raja itu, meskipun Marutta terus mendesaknya. Raja Marutta tahu kehebatan Samwarta. Ia berusaha mencari Samwarta dan memintanya untuk memimpin upacara untuknya. Semula Samwarta menolak dan berusaha menghindar dari kehormatan itu. Tapi setelah didesak-desak, akhirnya ia menyatakan kesediaan. Kesediaan memimpin upacara itu semakin membuat Brihaspati iri pada saudara mudanya.

“Musuhku, Samwarta akan memimpin upacara agung yajna. Apa yang harus aku lakukan?” Pikiran Brihaspati selalu dipenuhi dengan iri hati sampai kesehatannya terganggu. Kesehatannya merosot drastis dan ia menjadi kurus dan pucat. Semakin hari keadaannya semakin buruk sampai Batara Indra pun ikut khawatir.

Batara Indra, pemimpin para dewa, menghadap mahaguru para dewa itu dan menghaturkan hormat. Tanyanya, “Mahaguru, apa yang membuatmu sakit? Apa yang menyebankan engkau tampak menderita? Apakah mahaguru tidak bisa tidur nyenyak? Apakah para pelayan tidak melayanimu dengan baik? Apakah para dewa tidak bertindak sebagaimana mestinya padamu atau ada masalah lain?”

Brihaspati menjawab pertanyaan Indra yang mengkhawatirkan keadaannya, “Paduka Raja, aku tidur di atas ranjang yang nyaman dan bisa tidur dengan baik. Para pelayan melayaniku dengan penuh perhatian. Tidak ada masalah dengan sikap para dewa.” Kemudian, terhenti, tidak bisa melanjutkan bicara. Tampak benar kerisauan yang mengganggu pikiran sang mahaguru.

Tanya Indra penuh perhatian, “Apa yang mengganggu pikiranmu? Mengapa engkau semakin kurus dan pucat? Katakan padaku apa yang membuat risau hatimu?”

Brihaspati menceritakan semua yang merisaukan hatinya. Katanya, “Samwarta akan memimpin upacara yajna agung. Inilah yang membuatku semakin kurus dan pucat. Inilah yang membuat hatiku amat risau.”

Batara Indra sangat terkejut. “Brahmana yang kuhormati, engkau sudah mendapatkan semua yang kau inginkan. Engkau bijaksana dan terpelajar. Para dewa menganggapmu sebagai guru dan penasihat yang bijak. Kesalahan apa yang dilakukan Samwarta padamu? Mengapa kau biarkan rasa iri membuatmu menderita?”

Tetapi sang mahaguru mengingatkan Indra, “Apakah engkau sendiri senang melihat musuhmu bertambah kuat? Hakimilah aku dengan apa yang kau rasakan jika kau pada posisiku. Aku mohon engkau berkenan membantuku melawan Samwarta. Engkau harus temukan cara untuk mengalahkan Samwarta.”

Indra menyuruh Batara Agni menghadap. Katanya, “Pergilah dan hentikan yajna yang akan dipimpin oleh Samwarta.”

Dewa api itu setuju dan segera menunaikan perintah rajanya. Pohon-pohon dan tanaman menjalar di sepanjang jalan yang dilewati dewa api itu ikut terbakar dan bumi ikut gemetar menyaksikannya. Dengan rupa dewa, Batara Agni menunjukkan diri di hadapan raja.

Raja amat gembira melihat Batara Agni menampakkan diri di hadapannya. Ia perintahkan para pelayan untuk melayani tamu terhormat itu dengan sebaik-baiknya. Kata sang raja, “Persilakan tamu agung kita ini duduk. Bersihkan kakinya dan bawalah persembahan yang pantas untuk tamu agung ini.” Para pelayan langsung melaksanakan perintah itu.

Kemudian Batara Agni menjelaskan maksud kedatangannya. Katanya, “Suruhlah Samwarta pergi. Jika engkau membutuhkan pendeta, aku akan bawa Brihaspati sendiri untuk memimpin upacaramu.”

Mendengar kata-kata Batara Agni, Samwarta sangat gusar. Tuah amarah orang yang menjalani hidup sebagai brahmacarin secara ketat amat menakutkan. Katanya kepada Batara Agni, “Hentikan omong kosong itu! Jangan biarkan amarahku membakarmu hidup-hidup.”

Api bisa membakar apa pun menjadi abu, tetapi seorang brahmacarya bisa membakar api itu sendiri!

Melihat amarah Samwarta, Batara Agni gemetar ketakutan seperti daun-daun pohon aspen. Ia pun segera undur diri. Ia kembali kepada Batara Indra dan mengatakan apa yang terjadi. Raja para dewa itu tidak bisa percaya pada apa yang ia dengar. Katanya, “Agni, engkau bisa membakar habis semua yang ada di muka bumi ini. Bagaimana mungkin ada yang bisa mebakar habis dirimu? Bagaimana mungkin mata Samwarta yang membara bisa membakar dirimu menjadi abu?”

Jawab Batara Agni, “Mohon jangan salah mengerti. Paduka pasti sudah tahu kesaktian seorang brahmana dan brahmacarya.” Demikian Batara Agni mengingatkan Batara Indra yang juga pernah mengalami tuah amarah orang yang telah mencapai tingkatan brahmacarya.

Batara Indra tiak mau berpanjang kata. Ia segera memanggil gandarwa. Katanya, “Batara Agni gagal menunaikan tugas ini. Aku utus kau untuk menghadap Raja Marutta. Katakan kepadanya untuk menyuruh Samwarta pergi. Katakan kepadanya jika ia tidak menurut, Batara Indra sendiri yang akan datang dan menghancurkanmu.”

Seperti yang diperintahkan, gandarwa itu langsung pergi menuju istana Raja Marutta. Ia sampaikan pesan dan peringatan Batara Indra.

Sang raja tidak mau mendengar. Katanya, “Aku tidak mau menanggung dosa yang tidak terampuni, meninggalkan sahabat yang terpercaya. Aku tidak bisa meminta Samwarta pergi.”

Kata gandarwa itu, “Tuanku Raja, apakah engkau bisa menyelamatkan nyawamu jika Batara Indra melepaskan senjata dewatanya?”

Belum selesai gandarwa itu bicara, langit mengelegar. Petir menyambar-nyambar. Semua orang tahu itu menandakan kedatangan dewa petir. Mereka semua ketakutan.

Raja amat ketakutan dan mohon perlindungan pada Samwarta. Kata Samwarta kepada sang raja, “Jangan takut.” Ia segera melangkah maju dan bersiap mengeluarkan kesaktian dari tapa bratanya. Batara Indra yang telah bersiap untuk bertempur terpaksa berdamai dan ikut ambil bagian dalam yajna sebagai persembahan. Ia berkenan menerima upacara korban. Setelah upacara selesai, ia kembali ke kahyangan.

Rencana jahat Brihaspati gagal total. Sang brahmacarya menang dengan gilang gemilang.

Iri hati adalah dosa yang fatal. Iri hati adalah penyakit universal. Jika Brihaspati sendiri yang adalah orang yang bisa mengalahkan dewi pengetahuan saja bisa jatuh ke dalam iri hati, bagaimana dengan manusia biasa?

Hukum kehidupan dan kematian

Kata Begawan Wiyasa kepada Yudhistira: “Engkau orang bijaksana. Tidak baik membiarkan diri larut dalam kesedihan. Karena engkau mengerti makna kematian, tidak semestinya engkau bersedih seperti orang tidak berpendidikan.” Wiyasa berusaha menghibur Yudhistira: “Ketika Brahma menciptakan mahluk hidup, dia diliputi rasa cemas. Mereka akan berkembang biak dan kelak jumlah mereka akan melebihi kemampuan yang bisa ditanggung bumi. Tampaknya, tidak ada jalan keluar untuk masalah ini. Kegelisahan itu berkembang menjadi api yang terus dan terus membesar hinga mengancam semua mahluk ciptaan seketika itu juga. Untunglah, Rudra (Siwa) segera datang dan memohon Brahma supaya menenangkan apa yang bisa menghancurkan semuanya itu. Brahma berkenan mengindahkan permohonan itu. Kemudian, dia kendalikan api itu dan mengubahnya menjadi sebuah hukum, yang kemudian dikenal sebagai Kematian. Hukum ini bisa berwujud dalam berbagai bentuk, seperti perang, wabah penyakit, atau bencana. Hukum ini menjaga keseimbangan antara kelahiran dan kematian. Dengan demikian, kematian merupakan hukum kehidupan yang tiadk bisa dielakkan dan memang dimaksudkan untuk kebaikan dunia. Tidaklah bijaksana menyesali kematian atau terlalu bersedih karena kematian seseorang. Tidak ada alasan untuk menyayangkan kepergian mereka yang telah pergi menghadap Yang Kuasa. Ada lebih banyak alasan untuk bersedih bagi yang masih hidup.”

Kisah pangeran Uttara

Pada umumnya manusia cenderung meremehkan orang-orang yang berkemampuan lebih rendah. Yang kaya melecehkan yang miskin; yang cantik meremehkan yang berwajah biasa-biasa saja; yang kuat merendahkan yang lemah; yang pemberani meremehkan yang penakut. Bagi Arjuna, menolong orang yang lemah adalah kewajiban mereka yang kuat dan pemberani. Sadar bahwa dirinya diberkahi dengan keberanian dan keperwiraan sejak lahir, seperti halnya para pahlawan besar ia tidak menjadi sombong. Ia lakukan apa yang bisa untuk membangkitkan keberanian Uttara dan membuatnya pantas menyandang kasta kesatria.

Inilah keluhuran budi Arjuna. Ia tidak menyalahgunakan kekuatan dan kesaktiannya. Arjuna juga dikenal dengan nama Bibhatsu, yang berarti orang yang tidak mau melakukan hal-hal yang tidak pantas dan menghayati kehidupan yang luhur.

Telaga ajaib (tanya jawab Yudhistira dengan yaksa)

Tidak tahan lagi dengan rasa cemas menunggu saudara-saudaranya, Yudhistira bangkit dan mengikuti jejak kaki saudara-saudaranya. Setelah berjalan beberapa lama ia sampai ke padang rumput yang membentang bak permadani hijau. Di tengah padang itu, terbentang telaga yang jernih airnya. Tetapi ketika melihat saudara-saudaranya terbaring tidak bergerak, hatinya dicekam kesedihan yang mendalam. Ia menangis sedih.

Kemudian, Yudhistira turun ke tepi telaga. Ia ingin melepaskan dahaga yang sudah tidak tertahankan lagi. Tiba-tiba terdengar suara gaib.

“Saudara-saudaramu mati karena tidak mengindahkan kata-kataku. Jangan ikuti mereka. Jawab dulu pertanyaanku sebelum engkau minum dari telaga. Telaga ini milikku.”

Yudhistira tahu suara itu pasti suara yaksa. Ia mulai mengira-ngira apa yang sebenarnya terjadi pada saudara-saudaranya. Ia mencari cara untuk mengatasi keadaan ini. Katanya pada suara tanpa wujud itu: “Silakan ajukan pertanyaanmu.”

Suara gaib (S): “Apa yang menyebabkan matahari bersinar setiap hari?”

Jawab Yudhistira (Y): “Kekuatan Brahman.”

S: “Apa yang menyelamatkan manusia dari mara bahaya?”

Y: “Keberanianlah yang menyelamatkan manusia dari mara bahaya.”

S: “Ilmu apakah yang bisa membuat manusia bijaksana?”

Y: “Untuk menjadi bijaksana, tidak cukup hanya dengan membaca kitab-kitab. Dengan bergaul dengan orang-orang bijak, orang bisa mendapatkan kebijaksanaan.”

S: “Apakah yang lebih mulia dan lebih menghidupi manusia daripada bumi ini?”

Y: “Ibu, yang melahirkan dan membesarkan anak-anaknya, lebih mulia dan memberikan kehidupan lebih besar daripada bumi ini.”

S: “Apakah yang lebih tinggi daripada langit?”

Y: “Bapak.”

S: “Apakah yang lebih cepat daripada angin?”

Y: “Pikiran.”

S: “Apakah yang lebih berbahaya daripada jerami kering pada musim panas?”

Y: “Hati yang dilanda duka nestapa.”

S: “Apakah yang menemani seorang pengembara?”

Y: “Kemauan belajar.”

S: “Siapakah yang menemani seorang laki-laki di rumah?”

Y: “Istri.”

S: “Siapakah yang menemani manusia dalam kematian?”

Y: “Dharma. Hanya Dharmalah yang menemani jiwa dalam perjalanan sunyi setelah kematian.”

S: “Perahu apakah yang paling besar?”

Y: “Bumi, yang menampung segala isinya dalam dirinya sendiri adalah perahu terbesar.”

S: “Apakah kebahagiaan itu?”

Y: “Kebahagiaan adalah buah dari perbuatan baik.”

S: “Apakah yang jika ditinggalkan manusia akan membuatnya dicintai sesama?”

Y: “Keangkuhan. Dengan meninggalkan keangkuhan, manusia akan dicintai sesama.”

S: “Kehilangan apakah yang membuat orang bisa bahagia dan tidak sedih?”

Y: “Amarah, dengan menghilangkan amarah, manusia tidak akan dikejar kesedihan.”

S: “Apakah yang harus ditinggalkan manusia supaya menjadi kaya?”

Y: “Dengan meninggalkan hawa nafsu, manusia akan menjadi kaya.”

S: “Apakah yang membuat seorang menjadi brahmana sejati? Apakah kelahiran, kelakuan baik, atau pendidikan? Jawab dengan tegas!”

Y: “Kelahiran dan pendidikan tiadk membuat orang menjadi brahmana. Setinggi apa pun pendidikan orang jia diperbudak oleh kebiasaan jelek, orang itu bukan seorang brahmana. Meskipun telah menguasai keempat kitab Weda, jika kelakuannya buruk, tidak pantas disebut brahmana.”

S: “Apakah yang paling mengherankan di dunia ini?”

Y: “Setiap hari orang melihat orang pergi menghadap Batara Yama, tapi orang-orang masih saja berusaha untuk hidup lebih lama lagi. Inilah yang paling mengherankan di dunia ini.”

Demikianlah yaksa itu mengajukan berbagai macam pertanyaan dan semuanya dijawab tanpa keraguan oleh Yudhistira. Pada akhirnya, yaksa itu bertanya: “Tuanku Raja, seandainya slah satu saudaramu bisa hidup kembali, siapakah yang akan kau pilih?”

Yudhistira diam sejenak berpikir dan jawabnya: “Aku pilih Nakula, saudaraku yang berkulit putih seperti awan berarak, bermata bak bunga teratai, berdada bidang, berlengan panjang; tapi kini terbujur kaku seperti sebatang pohon yang tumbang.”

Yaksa senang mendengar jawaban Yudhistira dan bertanya kembali: “Mengapa engkau memilih Nakula dan bukan Bima yang mempunyai kekuatan setara enambelas ribu gajah? Kudengar engkau sangat menyayangi Bima. Dan mengapa bukan Arjuna, yang keterampilan olah senjatanya bisa melindungimu? Jelaskan mengapa kau memilih Nakula?”

Jawab Yudhistira: “Yaksa, hanya dharma yang bisa melindungi manusia, bukan Bima atau Arjuna. Jika mengabaikan dharma, manusia akan menemui kehancuran. Dewi Kunti dan Dewi Madri adalah istri ayahku. Aku, anak Kunti, masih hidup; dengan demikian, ia tidak kehilangan keturunan. Supaya adil, biarlah Nakula, putra Dewi Madri, hidup kembali.”

Yaksa sangat senang dengan sikap adil Yudhistira. Akhirnya, ia menghidupkan kembali saudara-saudara Yudhistira. Ternyata menjangan dan yaksa itu adalah jelmaan Batara Yama yang ingin menjenguk dan menguji putranya, Yudhistira. Batara Yama memeluk putranya dan memberi restu.

Orang-orang yang mendengar kisah pertemuan antara Yudhistira dan ayahnya tidak akan berbuat jahat. Mereka tidak akan pernah membuat perselisihan dengan para sahabat dan iri hati pada kekayaan atau hak milik orang lain. Mereka tidak akan pernah membiarkan diri menjadi budak nafsu. Mereka tidak akan pernah membiarkan diri lekat pada hal-hal yang fana.” Demikianlah dikatakan Waisampayana kepada Janamejaya ketika menceritakan kisah yaksa ini. Semoga hal yang sama terjadi pada pembaca kisa ini.

Kesempurnaan melalui ketekunan dan keikhlasan menjalankan kewajiban

Resi Markandeya menceritakan sebuah kisah. Dahulu kala hiduplah seorang brahmana yang bernama Kausika. Ia menjalani sumpahnya sebagai brahmacarin dengan setia dan sungguh-sungguh. Suatu hari, ia duduk di bawah sebuah pohon mendaraskan kitab Weda. Seekor burung bangau, yang hinggap di dahan, membuang kotoran tepat di kepala Kausika. Brahmana itu melihat ke atas. Tatapannya yang panas penuh bara amarah membunuh burung itu. Si burung jatuh dan mati. Sang brahmana tercenung sedih telah membunuh burung yang tidak berdosa.

Mengerikan sekali jika setiap keinginan yang terlintas di kepala langsung terwujud begitu saja. Apa yang akan terjadi jika setiap keinginan yang tidak dipertimbangkan matang, terwujud seketika itu juga? Bayangkanlah, betapa banyak penyesalan dan rasa berdosa yang akan kita alami! Untunglah pemenuhan keinginan kita tergantung pada faktor-faktor di luar diri kita dan oleh karena itu, kita terhindar dari sekian banyak dosa dan penyesalan.

Kausika menyesali pikiran jahat yang terlintas di benaknya ketika ia marah. Ia sedih pikiran itu akhirnya membunuh seekor burung yang tidak berdosa. Beberapa lama kemudian, seperti biasa ia pergi meminta-minta sedekah.

Ia duduk di ambang pintu untuk minta sedekah. Waktu itu, sang ibu rumah tangga sedang sibuk membersihkan perabot. Kausika terus menunggu dengan harapan setelah selesai ibu itu akan memberikan sedekah. Kemudian, si suami pulang dalam keadaan lelah dan lapar. Sudah sewajarnya, perempuan itu melayani kebutuhan suami: mencuci, membasuh kaki, dan menyiapkan makan. Karena kesibukannya, sepertinya perempuan itu lupa pada brahmana yang duduk di ambang pintu. Setelah selesai melayani suami, perempuan itu pergi menemui brahmana dan memberikan sedekah. Katanya: “Maafkan aku karena sudah membuat brahmana menunggu lama.”

Kata brahmana itu: “Ibu, engkau telah membuatku menunggu lama. Engkau bersikap tidak adil.”

Jawab ibu itu: “Brahmana yang budiman, mohon maafkan aku. Aku harus melayani suamiku dan oleh sebab itu membuatmu menunggu lama.”

Kata brahmana itu: “Memang benar, tugas seorang istri adalah melayani suami. Tetapi itu tidak berarti ia bisa mengabaikan seorang brahmana. Dasar perempuan sombong.”

Jawab ibu itu: “Jangan marah. Mohon diingat aku membuat brahmana menunggu karena aku sedang menyelesaikan tugas utamaku, melayani suami. Aku bukan burung bangau yang bisa dibunuh dengan tatapan mata penuh amarah. Amarah seorang brahmana tidak akan mengakibatkan apa-apa pada seorang perempuan yang megabdi dan melayani suaminya dengan baik.”

Brahmana itu amat terkejut. Bagaimana mungkin perempuan itu bisa tahu tentang burung bangau yang mati karena tatapan matanya.

Lanjut ibu itu: “Brahmana yang terhormat, apakah engkau tahu tentang rahasia kewajiban? Apakah engkau tahu bahwa amarah adalah musuh terbesar dalam diri manusia? Mohon maaf sudah membuatmu menunggu terlalu lama. Pergilah ke Mithila dan belajarlah tentang rahasia hidup yang baik dari Dharmawyadha yang tinggal di kota itu.”

Brahmana itu keheranan. Katanya: “Ibu, aku pantas mendapatkan nasihatmu. Semoga kebahagiaan menaungi hidupmu.” Setelah itu, ia mohon diri untuk pergi ke Mithila.

Kausika tiba di Mithila dan mencari tempat tinggal Dharmawyadha. Semula ia pikir Dharmawyadha tinggal di sebuah pertapaan yang sepi, yang jauh dari keramaian dan hiruk pikuk hidup sehari-hari. Ia berjalan melintasi
jalan-jalan yang ramai di perumahan yang indah di kota besar itu. Akhirnya, ia sampai di sebuah kedai penjual daging. Ia amat terkejut ketika si penjual daging adalah Dharmawyadha.

Kausika heran. Ia hanya memandang dari kejauhan dengan perasaan jijik. Tukang daging itu tiba-tiba berdiri, mendatangi brahmana itu dan bertanya: “Brahmana yang terhormat, apakah engkau baik-baik saja? Apakah perempuan dari kasta brahmana itu yang menyuruhmu pergi ke mari?”

Sekali lagi Kausika terdiam karena heran.

Kata tukang daging itu: “Brahmana yang terhormat. Mari pergi ke rumahku.” Di rumah tukang daging itu, ia melihat sebuah keluarga yang bahagia. Ia kagum dengan cara tukang daging itu melayani orangtuanya. Kausika banyak mendapat pelajaran berharga tentang dharma, panggilan, dan kewajiban manusia.

Setelah itu, brahmana itu pulang dan menjalankan kewajibannya kepada orangtuanya, yang semula agak terabaikan.

Pesan moral kisah Dharmawyadha ini oleh Wedawyasa dirangkai dan dimasukkan dengan indah ke dalam kisah Mahabharata. Kisah ini sama dengan ajaran Bhagavadgita, bahwa manusia bisa mencapai kesempurnaan jika selalu tekun dan ikhlas menjalani setiap tugas yang dipercayakan kepadanya. Ketekunan dan keikhlasan inilah bentuk sujud kepada Yang Maha Kuasa. Kewajiban ini mungkin adalah pekerjaan yang ditekuni di masyarakat atau mungkin yang dipaksakan keadaan atau hasil pilihan sadar. Namun semikian, yang paling penting adalah semangat keikhlasan dan kesetiaan dalam menjalankan kewajiban tersebut. Wedawyasa ingin menekankan kebenaran agung ini dengan menempatkan seorang brahmana yang terpelajar, yang kebetulan belum tahu, pada posisi belajar pada seorang tukang daging, yang menjalani kehidupan yang sederhana dan terpinggirkan.

Anak tidak selalu sama dengan orangtuanya

Kata-kata Kagola (ayah Astawakra): “Seorang anak tidak mesti sama seperti ayahnya. Seorang ayah yang lemah  raganya bisa saja memiliki anak yang gagah perkasa. Seorang ayah yang dungu bisa saja mendapatkan anak yang sangat cerdas. Kita tidak bisa menilai kebesaran jiwa orang dari penampilan ragawi atau usia. Penampilan luar bisa menipu.”

Mengutamakan orang yang lebih lemah

Astawakra (cucu Resi Uddalaka) berkata, “Bahkan seorang raja, jika ia memang bijaksana dan adil, akan memberikan jalan kepada orang buta, cacat, para wanita, pembawa beban berat, dan para brahmana. Demikianlah yang diajarkan kitab-kitab suci.”

Belajar saja tidak cukup

Resi Lomasa menjelaskan inti dari kisah Arwawasu dan Parawasu (putra Resi Raibhya): Arwawasu dan Parawasu  adalah putra mahaguru besar. Keduanya belajar dari ayah mereka dan menjadi ahli kitab yang masyhur. Tetapi belajar itu tidak bisa disamakan dengan keluhuran budi. Memang benar orang harus bisa membedakan yang baik dan yang buruk, jika menginginkan kebaikan dan menghindari kejahatan. Tetapi pengetahuan itu harus meresap ke dalam setiap pikiran dan tindakan dalam hidup. Hanya dengan cara ini, orang bisa menjadi berbudi mulia. Pengetahuan yang tidak diresapi hanya akan menjadi tumpukan keterangan yang membebani pikiran dan tidak menghasilkan keluhuran budi. Pengetahuan semacam ini tidak lebih dari sekadar tampilan luar. Ibarat pakaian, bukan bagian dari diri.

Semua orang pernah mengalami kemalangan

Resi Brihadaswa kepada Yudhistira: “Jangan biarkan pikiranmu diliputi kedukaan. Jika kau pikir tidak ada orang yang pernah mengalami kemalangan seperti yang kau alami saat ini, engkau keliru. Memang, setiap orang dengan cara dan perasaannya sendiri merasa bahwa ia adalah orang yang paling malang. Itu wajar karena apa yang dirasakan jauh lebih terasa daripada apa yang dilihat atau didengar. Hadapilah cobaan dan derita ini dengan sabar dan tabah, karena tidak hanya kau, semua orang juga mengalami.”

« Entri lama