Pantang-kekerasan (ahimsa)

Berpuasa tetap utama merupakan perbuatan pemujaan dan perbuatan kesaksian terhadap kebenaran universal. Berpuasa merupakan bagian dari dharma Hindu, dan oleh karenanya kesaksian India terhadap kebenaran-kebenaran religius yang terkandung dalam susunan dari kenyataan kosmis. Maka bagi Gandhi berbicara, menulis, berpuasa dan menjalankan perlawanan pantang-kekerasan (ahimsa) demi kaum Harijan serta kebenasan India adalah sekaligus memberi kesaksian atas kebenaran utama Hinduisme: “Kepercayaan bahwa SEMUA kehidupan (bukan hanya makhluk manusia melainkan semua makhluk berindera) adalah satu, yakni semua kehidupan yang berasal dari Satu sumber universal, sebutlah itu Allah, Tuhan atau Parameshwara…” (Thomas Merton (1990), dalam buku “Gandhi tentang pantang-kekerasan”)

Beberapa kutipan Gandhi

Tidak ada sama sekali batas besarnya pengorbanan yang dapat dilakukan untuk sampai pada penyatuan dengan hidup, akan tetapi pasti pula cita-cita yang demikian besarnya itu akan membatasi keperluan-keperluanmu. Inilah, akan engkau lihat, antitesis dari sikap peradaban modern, yang mengatakan, “Perbanyaklah keperluan-keperluanmu.” Mereka yang menganut keyakinan tersebut menganggap bahwa memperbanyak keperluan berarti memperbanyak pengetahuan, yang dengan pengetahuan itu akan dapat memahami Yang-Serba-Tak-Terbatas dengan lebih baik. Kebalikannya, Hinduisme melarang kegemaran dan pelipatgandaan keperluan, karena hal-hal itu menghalang-halangi pertumbuhan ke identitas akhir dengan Diri Universal.

Manusia tidak dapat bebas jika tidak mengetahui bahwa dirinya dikuasai oleh kebutuhan, sebab kebebasannya selalu dimenangkannya melalui upaya yang tidak pernah berhasil seluruhnya untuk melepaskan dirinya dari kebutuhan.

Prinsip-prinsip Pantang-Kekerasan

AHIMSA (pantang-kekerasan) bagi Gandhi merupakan hukum dasar bagi hidup kita. Itulah sebabnya mengapa Ahimsa dapat digunakan sebagai prinsip paling efektif untuk tindakan sosial, karena secara mendalam sesuai dengan kebenaran sifat alami manusia dan sesuai benar dengan keinginan bawaannya akan perdamaian, keadilan, ketertiban, kebebasan dan martabat pribadi. Oleh karena himsa (kekerasan) merendahkan dan merusak manusia, maka menghadapi kekerasan dengan kekerasan dan kebencian dengan kebencian hanya akan menambah parahnya kemerosotan secara progresif dari manusia. Pantang-kekerasan, kebalikannya, menyembuhkan dan memulihkan sifat alami manusia sembari memberikan kepadanya sarana bagi penyembuhan serta pemugaran ketertiban dan keadilan sosial.

Oleh karena ahimsa ada di dalam sifat alami manusia sendiri, maka hal itu dapat dipelajari oleh semuanya, walaupun Gandhi dengan berhati-hati menyatakan bahwa ia tidak mengharapkan setiap orang untuk mempraktekkannya dengan sempurna. Namun demikian, semua orang harus bersedia menanggung risiko dan taruhan bagi ahimsa, karena kebijakan kekerasan tidak saja telah membuktikan kebobrokannya tetapi juga mengancam manusia dengan kemusnahan.

Pantang-kekerasan mencakup pemurnian diri yang sesempurna mungkin bagi manusia. Bagi orang perorangan, kekuatan pantang-kekerasan adalah dalam proporsi yang tepat sesuai dengan kemampuan, bukan kemauan, dari penganut pantang-kekeraan untuk menimbulkan kekerasan. Kekuatan yang tersedia bagi penganut pantang-kekerasan selalu lebih besar daripada jika ia bersifat keras. Tidak ada kekalahan dalam pantang-kekerasan. [I-111]

Kepercayaan pada pantang-kekerasan didasarkan pada asumsi bahwa sifat alami manusia pada intinya adalah satu dan oleh karenanya pasti memberi tanggapan terhadap imbauan cinta-kasih … Teknik pantang-kekerasan tidak menggantungkan suksesnya pada kemauan baik para diktator, sebab seorang pejuang pantang-kekerasan menyandarkan diri pada pertolongan yang pasti dari Tuhan yang menopangnya selama kesulitan-kesulitan yang jika tanpa pertolongan itu akan dianggap tak teratasi. [1-175]

Jika seseorang tidak mempraktekkan pantang-kekerasan di dalam hubungan-hubungan pribadinya dengan orang lain dan berharap menerapkannya pada urusan-urusan yang lebih besar, maka ia keliru sekali … Kesabaran timbal-balik bukanlah pantang-kekerasan. Segera setelah engkau yakin bahwa pantang-kekerasan adalah hukum dari hidup, engkau harus mempraktekkannya terhadap mereka yang berlaku keras terhadap dirimu; dan hukum ini harus berlaku bagi bangsa-bangsa seperti berlakunya terhadap orang-perorangan. Jika keyakinan sudah ada maka hal-hal yang selanjutnya akan menyusul. [I-187]

(Pada pantang-kekerasan) keberanian terletak pada kematian, bukan pada pembunuhan. [I-265]

Manusia sebagai binatang adalah keras, tetapi sebagai jiwa tidaklah keras. Saat bangun kesadarannya akan jiwanya di dalam dirinya, maka ia tidak dapat bertahan keras. Ia akan maju ke arah ahimsa atau cepat-cepat akan menemui ajalnya. [I-311]

Pada pantang-kekerasan, massa mempunyai senjata yang memungkinkan seorang anak, seorang perempuan atau bahkan seorang tua jompo dengan berhasil menentang pemerintah yang paling berkuasa. Jika jiwamu kuat, kekurangan kekuatan jasmaniah saja bukan lagi merupakan rintangan. [II-41]

Prinsip pertama tindakan pantang-kekerasan adalah prinsip untuk tidak bekerja sama dengan segala sesuatu yang menghinakan. [II-53]

Melepaskan jiwanya untuk apa yang dianggap benar adalah intisari dari satyagraha. [II-58]

Pedang pelaku satyagrahi adalah cinta-kasih, dan keteguhan yang tidak tergoyahkan yang bersumber darinya. [II-59]

Syarat-syarat yang diperlukan bagi keberhasilan satyagraha adalah [II-61]:

  1. Sang satyagrahi harus tidak mempunyai rasa benci pada lawan.
  2. Urusannya harus yang benar dan penting.
  3. Sang satyagrahi harus bersedia menderita sampai akhir.

Akar satyagraha adalah di dalam doa. Seorang satyagraha mengandalkan Tuhan untuk perlindungannya terhadap kezaliman kekuatan kebinatangan. [II-62]

Tidak ada manusia yang dapat menghentikan kekerasan. Hanya Tuhan yang dapat berbuat demikian. Manusia-manusia hanya alat belaka di tangan-Nya … Faktor penentuannya adalah kemurahan Tuhan. Ia bekerja sesuai dengan hukum-Nya dan oleh karena itu kekerasan juga akan terhentikan sesuai dengan hukum tersebut. Manusia tidak mengerti dan tidak akan dapat mengerti sepenuhnya hukum Tuhan. Maka dari itu kita harus mencoba mengerti sekuat tenaga yang ada pada kita. [II-95]

Ahimsa adalah salah satu dari prinsip-prinsip besar dunia yang tidak satu pun kekuatan di dunia yang dapat menghapuskannya. Beribu-ribu orang sepertiku mungkin akan mati dalam usaha untuk mempertahankan cita-citanya, akan tetapi ahimsa tidak akan mati. Dan ajaran ahimsa hanya dapat disebarluaskan melalui mereka yang mempercayainya dan rela mati demi cita-citanya. [II-96]

Seseorang yang bersikap ahimsa, laki-laki maupun perempuan, akan harus mati tanpa balas-dendam, kemarahan atau kedengkian, dalam membela diri atau membela kehormatan kau wanitanya. Inilah bentuk keberanian tertinggi. Jika orang-perorangan atau segolongan rakyat tidak mampu atau tidak mau menganut hukum besar dari hidup ini (ahimsa), maka pembalasan atau perlawanan sampai gugur adalah bentuk keberanian terbaik yang kedua, meskipun di bawah yang pertama tadi. Perasaan pengecut menghendaki balas-dendam, akan tetapi oleh karena takut mati ia berpaling kepada lain-lainnya, mungkin kepada pemerintah yang sedang berkuasa untuk melindunginya. Pengecut derajatnya di bawah manusia. Ia tidak layak menjadi anggota masyarakat pria dan wanita. [II-148]

Intisari pelajaran religius yang benar adalah bahwa orang wajib melayani dan berteman dengan semua orang. Mudah saja berteman dengan teman-teman sendiri. Tetapi, berteman dengan yang menganggap dirinya sebagai musuhmu, itulah baru pokok dari intisari agama yang benar. Lain-lainnya hanya usaha (bisnis) belaka. [II-248]

Cilakrama III: Niyamabrata

Selain dari Yamabrata, Çilakrama menyebutkan juga Niyamabrata sebagai pokok isinya. Arti Niyamabrata tidak jauh berbeda dengan arti Yamabrata, kedua-duanya berarti pengendalian diri untuk mencapai kesempurnaan dan kesucian lahir batin, berupa Dharma dan Moksa.

Patanjali Yogasutra dan Yogasaranggraha Wijnana Bhiksu menyebut Niyamabrata itu terdiri atas: Tapa, Swadhyaya, Santosha, Sauca, Iswarapranidhana atau Iswarapujana.

Çaucasantosatapah swadhyayayi-
çwarapranidhananiniyamah

Tapah swadhayayasantosah
çaucam içwarapujanam,
samasan niyamah prokta
yogasiddhipradayinah

Tapa sebenarnya berarti panas atau memanaskan diri, yang maksudnya menyakiti diri atau mengurangi kesenangan atau kenikmatan duniawi. Swadhyaya berarti belajar sendiri atau mengulangi mata pelajaran. Santosha berarti selalu merasa puas dengan segala kejadian. Sauca artinya bersih lahir batin dan Iswarapranidhana artinya rajin menyembah sujud bakti dan menyerahkan kehidupan kepada Iswara yaitu Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang, Pelindung Keadilan (maksudnya, rajin sembahyang, Red).

Dalam lontar Çilakrama terdapat sloka sebagai berikut:

Akrodha guruçucrusa
çaucam aharalaghawam,
apramadaç ca pancaite
niyamah çiwabheasitah

Akrodha ngaranya tan kataman krodha, guruçucrusa ngaranya lot makareket ring guru, makanimitta hynnirengo warawarah sang guru, çauca ngaranya nitya çaucarcapa ring bhatara, aharalaghawa ngaranya tan barang-barang pinangan, apramada ngaranya tan paleh-paleh angabhyasa sang hyang kabhujanggan. Kalima ika niyamabrata ngaranya ling bhatara Çiwa.

Artinya: yang bernama akrodha (ialah) tidak suka marah, yang bernama guruçucrusa, ingin dekat dengan Guru karena ingin mendengar (pelajaran) Guru, yang bernama sauca selalu çaucarcana (mendoa, mohon kebersihan lahir batin) terhadap Tuhan. Yang bernama aharalaghawa, tidak sembarangan (makanan) dimakan, apramada namanya tidak segan-segan membiasakan ajaran kerohanian. Kelima itu, bernama Nyamabrata, sabda Bhatara Çiwa.

Komentar: Meskipun Niyamabrata menurut Patanjali maupun menurut Çilakrama sedikit berbeda, namun pada prinsipnya bertujuan sama, yaitu kesucian lahir batin. Kelima hal ini dapat meningkatkan konsentrasi seorang murid untuk belajar, apapun jenis pelajaran yang sedang ditempuhnya.

Cilakrama II: Yamabrata

Yamabrata adalah brata pengendalian diri untuk mencapai kesempurnaan rohani dan kesucian batin berupa Dharma. Yamabrata ini juga merupakan syarat jika serius belajar Yoga (diulas dalam Patanjali Yogasutra).

Ahimsa brahmacaryanca
satyam awyawaharikam,
astainyam iti pancaite
yama rudrena bhasitah

Ahimsa dan Brahmacari, Satya, Awyawahara, Astainya, kelima ini disebut Yama (Panca Yamabrata) oleh Dewa Rudra.

Ahimsa ngaranya tan pamati-mati
brahmacarya ngaranya tan ahyun arabya,
satya ngaranya tatan mityawacana,
awyawaharika ngaranya tan awiwada,
tan adol awelya, tan pagunadosa,
astainya ngaranya tan amaling-maling
tan angalap drewyaning lyan yan tan ubhaya

Artinya: ahimsa namanya tidak membunuh, brahmacari namanya tak mau beristri, satya namanya tidak berdusta, awyawaharika namanya tidak suka bertengkar, tidak berjual beli, tidak menunjukkan kecakapan dan berdosa, astainya artinya tidak mencuri, tidak mengambil milik orang lain bila tidak dapat persetujuan kedua pihak.

Namun dalam Wratisasana, suatu lontar yang juga menguraikan tata tertib dan kesusilaan aguron-guron, menyebutkan susunan yang agak berbeda dengan yang disebutkan di atas (Çilakrama yang mendasarkan pada lontar Wrhaspati Tattwa), sebagai berikut:

Ahimsah brahmacaryanca
satyam aharalaghawah,
nasteyaçca yamasapancah
rudrena parikirtitah

Artinya, Dewa Rudra menitahkan lima macam Yamabrata, yaitu ahimsa (tidak membunuh-bunuh), brahmacari (memelihara kemurnian dalam hal sex), satya (jujur), aharalaghawa (makan harus secukupnya, tidak semau-maunya saja), dan asteya (tidak melakukan penciruan, curang, dsb).

Cilakrama I: Gurubhakti

Gurubhakti merupakan bagian terbesar dari lontar Çilakrama, yang berarti sujud bakti dan sikap hormat para siswa kerohanian (Çisya) terhadap Guru yang mendidik pribadi dan mencurahkan ilmu pengetahuannya terhadap para siswa kerohanian itu. Selain aturan seperti yang dijelaskan pada kutipan Çilakrama tadi, disebutkan juga bahwa seorang sisya tidak diijinkan memutus-mutus pembicaraan Guru, harus menurut apa yang diucapkan Guru, bila Guru datang ia harus turun dari tempat duduknya, bila melihat Guru berjalan atau berdiri selalu mengikuti di belakang. Bila berbicara terhadap Guru tidak boleh menoleh kesebelah atau kebelakang supaya tekun menerima ucapan-ucapan Guru dan selalu menyahut dengan ucapan-ucapan yang menyenangkan hati (Manohara). Lagi terdapat suatu kewajiban bagi seorang sisya, walaupun bagaimana marahnya bila Gurunya menasehati hendaklah diturutkannya.

Ada tiga yang disebut sebagai guru, yaitu Gururupaka yang artinya orangtua, Gurupangajyan, guru yang memberi pendidikan dan ilmu pengetahuan untuk mendapatkan kesempurnaan, dan Guruwisesa, yaitu pemerintah yang menjadi abdi kesejahteraan tempat rakyat bernaung di waktu kesusahan. Di antara ketiga Guru tersebut, Gurupangajyan mendapat penghormatan yang lebih dari kedua Guru yang lain, karena Gurupangajyan adalah Guru yang tidak hanya memberikan kesejahteraan atau kebahagiaan jasmani, tetapi terutama memberikan kesejahteraan atau kebahagiaan rohani yang disebut Dharma, yaitu pendidikan suci berupa kebajikan dan kesucian laksana yang membuka pintu untuk mendapatkan kebahagiaan akhirat (sorga) dan penjelmaan yang baik kemudian terutama memberi jalan untuk mencapai tujuan hidup yang tertinggi yang disebut Moksa.

Komentar: aturan gurubhakti ini memang diperuntukkan bagi sisya yang belajar kerohanian pada seorang guru kerohanian (Acarya). Apa yang bisa kita petik pada jaman modern ini adalah sikap hormat dan penurut pada guru kita. Dengan hormat dan menuruti apa yang diperintahkan guru kita, apa yang ingin disampaikan guru kepada kita akan dapat kita serap secara maksimal. Contoh yang paling sederhana, jika seorang guru memberikan tugas kepada kita, dan kita kerjakan dengan serius tugas itu, kita akan dapat manfaat dari tugas itu… berbeda dengan kalau kita mengabaikan tugas itu, kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Jaman sekarang, hormat dengan cara tunduk-tunduk di hadapan guru kita mungkin sudah tidak sesuai, namun hormat dalam arti respek terhadap guru masih bisa kita gunakan sampai kapanpun. Guru yang saya maksud di sini adalah guru yang mempunyai dan berpedoman pada etika sebagai guru.

Cilakrama: tatakrama antara murid dan guru

Saat ini mungkin tidak banyak dari kita yang pernah mendengar atau mengetahui bagaimana seharusnya bersikap terhadap guru atau eks guru kita. Hubungan pergaulan yang semakin maju (entah lah apakah benar atau tidak), kebanyakan dari kita menganggap guru bak seorang teman, yang ketika kita kesal kepadanya kita memakinya. Apakah itu cara yang tepat untuk memperlakukan seorang guru?

Ada naskah kuno yang menguraikan tentang Çilakramaning aguron-guron, yang dikenal dengan nama Çilakrama. Çilakrama adalah naskah Jawa Kuno yang menguraikan kewajiban atau tata tertib seorang siswa (çisya) calon kerohanian atau calon pendeta yang hendak menerjunkan diri dalam hidup keagamaan untuk mencapai kesempurnaan hidup dan kesucian batin yang berupa kebajikan, keluhuran budi yang disebut Dharma untuk mendapatkan kebahagiaan akhirat, yaitu sorga dan penjelmaan yang sempurna, terutama untuk mencapai kebahagiaan rohani yang langgeng dan kebebasan roh dari penjelmaan yang disebut Moksa.

Dalam naskah Çilakrama diuraikan bagaimana seharusnya siswa menunjukkan sikap hormat atau sujud bhaktinya terhadap acarya atau gurunya dan pantangan-pantangan maupun keharusan lain yang harus mereka lakukan, hendaknya mereka dapat memahami ajaran-ajaran yang mereka terima, dan yang terpenting dapat selalu menjunjung tinggi Dharma dan Moksa itu. Naskah Çilakrama ini berisi empat bagian, yaitu Gurubhakti, Yamabrata, Niyamabrata, dan Guru dan Çisya.

Ini kutipan dalam naskah Çilakrama:

Nihan ta çililakramaning aguron-guron,
haywa tan bhakti ring guru, haywa himaniman,
haywa tan
çakti ring sang guru, haywatan sadhu tuhwa,
haywa nikelana sapatuduhing sang guru,
haywa angideki wayangan sang guru,
haywa anglungguhi palungguhaning sang guru.

Artinya: Inilah tatatertib berguru (menuntut ilmu), janganlah tidak bakti terhadap guru, janganlah mencaci-maki guru, jangan segan kepada guru, jangan tidak tulus, jangan menentang segala perintah guru, jangan menginjak bayangan guru, jangan menduduki tempat duduk guru.

Kalau kita baca naskah ini, kita bisa terapkan pada semua guru, tidak harus guru kerohanian seperti yang tertulis pada naskah asli Çilakrama ini. Kebaikan bisa kita peroleh jika kita menghormati guru atau eks guru kita. Apapun yang pernah dilakukan guru kepada kita, itu adalah demi kebaikan kita.

(disalin dan disunting kembali dari buku “Çilakrama” karangan Drs. I.B. Oka Punyatmadja, 1984 ditambah komentar pribadi).

Renungan Nitisastra

Pemimpin Negara yang tidak bijak dan adil
Pemimpin agama yang tidak menyejukkan umatnya
Ksatria yang tidak melindungi rakyatnya
Ilmuwan yang tidak jujur dan tidak memberikan kebaruan
Hartawan yang tidak bersifat dermawan
Ahli pengobatan yang tidak tulus mengobati
Masyarakat yang tidak santun dan disiplin
Tanah yang tidak subur
Lingkungan yang tidak bersih, tidak sehat, dan indah.
TIDAKLAH BERMANFAAT BAGI KEHIDUPAN MANUSIA.

Rajalah yang menerima dosa yang diperbuat oleh rakyatnya
Bagawantalah yang menerima dosa yang diperbuat oleh raja
Suamilah yang menerima dosa yang diperbuat oleh Istri
Ibulah yang menerima dosa yang diperbuat oleh anaknya
Gurulah yang menerima dosa yang diperbuat oleh murid.

(dikirim oleh Jero Mangku Sudiada)

Nasionalisme a la Philipinne

Pada tanggal 1 – 2 Agustus 2007 kali yang kedua saya mendapat kesempatan mengikuti seminar atau Fieldwise Seminar untuk bidang Environmental Engineering yang disponsori oleh AUN/SEED-Net di Hotel Richmonde, Manila (Philipinne). Perjalanan dari Yogyakarta menuju Manila memang cukup melelahkan (JOG-CKG-SIN-MNL pp), karena tidak ada penerbangan langsung… harus transit beberapa kali. Belum lagi waktu transit yang sangat pendek harus sport jantung takut ketinggalan pesawat. Saya bersyukur selama perjalanan kali ini pesawat tidak ada yang mengalami delay.

Btw, seminar kali ini khusus untuk mahasiswa-mahasiswa asing yang disponsori oleh AUN/SEED-Net. Ada 17 presenter yang mengambil tema/topik pengelolaan lingkungan dari yang sederhana sampai yang agak rumit dan sangat cocok diterapkan di negara berkembang seperti Philipinne dan Indonesia tentunya. Seperti biasa pada hari pertama ada ucapan selamat datang oleh pembawa acara sekaligus ketua program studi ini. Acara mutlak yang selalu ada setelah ucapan selamat datang adalah penghormatan kepada bendera nasional Philipinne dengan diiringi lagu kebangsaan mereka. Acara semacam ini tidak pernah ada pada seminar-seminar di Indonesia. Meskipun anak-anak muda Philipinne yang konon lebih Amerika dari orang Amerika sendiri, rasa nasionalismenya tidak luntur. Mereka selalu melakukan penghormatan bendera negara tiap memulai sesuatu hal penting. Bravoo buat saudara-saudara dari Philipinne.

Acara seminar 2 hari full selesai dan saya kembali ke Indonesia naik SQ (maskapai penerbangan milik pemerintah Singapore). Saya lupa kalau bawa parfum harus dibungkus plastik yang rapat (ada seal-nya). Untungnya salah satu pengontrolnya pernah di Indonesia 6 tahun. Dia menjelaskan dengan bahasa Indonesia yang sangat fasih karena dia tahu kalau saya orang Indonesia. Giliran salah satu temannya ada yang bawa plastik yang dimaksud dan bilang… kita saudara se-ASEAN harus saling bantu sambil menyerahkan 1 lembar plastik itu kepada saya. Saya sangat terharu dengan ketulusan mereka. Ini kali kedua saya mendapat perlakuan yang sama di bandara NAIA (Ninoy Aquino International Airport), Manila. Terima kasih, kawan.

Huruf daerah yang terlupakan…

Pernahkah anda mendengar huruf Batak Karo atau huruf Lontara? Mungkin sebagian besar generasi muda Indonesia tidak pernah melihat atau bahkan mendengar orang mendiskusikan mengenai huruf ini. Dalam dunia tipografi, sebelum masuknya huruf Latin atau huruf Arab di Indonesia kita sebenarnya sudah memiliki beberapa macam huruf yang sudah disesuaikan dengan budaya lokal masyarakat/sukunya. Misalnya, huruf Lontara (Bugis) banyak dipakai untuk membaca/menulis di kalangan suku Bugis. Suku-suku lain yang sudah memiliki huruf pada waktu itu, misalnya Batak (Batak Karo, Batak Mandailing, Batak Pakpak, Batak Simalungun dan Batak Toba), Jawa, dan Bali (lihat huruf lokal Indonesia untuk melihat contoh tipografi dari huruf-huruf lokal Indonesia masa lalu).

Konon, sebagian naskah kuno di masing-masing suku di Indonesia masih dalam bentuk bahasa dan tulisan ini. Keterbatasan kita akan membaca tulisan kuno ini menyebabkan penyelaman terhadap budaya “adhiluhung” masa lalu sangat sulit dilakukan. Sayangnya lagi kita telanjur senang dengan budaya impor…:-(. Budaya masa lalu, bagi generasi muda dianggap kuno atau orang sudah senang yang serba praktis… malas untuk belajar membaca huruf-huruf lokal. Akhirnya, kita tidak pernah dapat meneruskan tradisi lokal dari nenek moyang kita karena satu hal… i.e., kita BUTA HURUF. Jadi, anda jangan merasa bebas buta huruf sementara hanya mampu membaca huruf Latin dan huruf-huruf impor lainnya, he..he…

Btw, ketika saya berkunjung ke beberapa negara Asia yang memiliki huruf sendiri, seperti Thailand, Vietnam, Laos, Kamboja dan Jepang… betapa beratnya memilih menu makanan yang tersaji di restoran atau mencari nama jalan, karena untuk membaca huruf mereka saya menjadi BUTA HURUF. Mereka menulis keterangan jalan atau nama tempat dengan huruf lokal mereka. Berbeda dengan kita di Indonesia yang mungkin begitu modern-nya, sehingga generasi muda tidak PD (percaya diri) membaca huruf daerah sendiri, he..he… sorry, jangan tersinggung…

Sekarang ini huruf-huruf tersebut sudah tersedia dalam bentuk digitalnya (*.ttf atau True Type Font), sehingga tidak perlu bersusah-susah payah untuk menulis dengan huruf itu. Berkas *.ttf ini bisa didownload gratis dari internet. Selamat mencoba jika ingin mengenal budaya “adhiluhung” masa lalu.

Keberhasilan dan kegagalan pendidikan

Beberapa tahun yang lalu, penulis membaca suatu berita di harian yang menyatakan bahwa tanggung jawab pendidikan adalah sepenuhnya pada sekolah dan pengajar, serta kegagalan pendidikan adalah karena ketidakmampuan sekolah/pengajar dalam mendidik siswanya. Ini ungkapan yang sering penulis baca di media masa. Bahkan, tidak jarang masyarakat kadang menghujat lembaga ini ketika putra/putri mereka gagal dalam menempuh pendidikan. Benarkah hanya lembaga ini yang harus bertanggung jawab? Dalam kasus IPDN mungkin ya, karena siswa 100% kesehariannya berada di kampus. Tetapi, bagaimana dengan sekolah/kampus yang tidak mengasramakan siswanya?

Karakter dan “bekal” siswa pada pendidikan seperti ini tidak melulu didapatkan di dalam sekolah/kampus. Mari kita hitung-hitungan waktu, berapa persenkah waktu siswa digunakan di sekolah? Murid SD masuk sekolah pukul 7.00 dan pulang pukul 12.00 (total 5 jam di sekolah), murid SMP mungkin lebih banyak… tetapi tidak lebih dari 6 jam di sekolah). Andaikan rata-rata jumlah jam sekolah murid SD – SMA adalah 6 jam maka waktu di sekolah hanya 30 jam per minggu (30/168 = 18%). Kalau waktu tidur disisihkan, maka kontribusi sekolah adalah 30/(168-56) = 27%. Jadi kontribusi sekolah pada keberhasilan siswa hanya 27%. Ketika mahasiswa jauh lebih kecil, karena beban SKS yang diambil rata-rata 22 SKS (lk 20%). Jadi, bolehkah kegagalan siswa hanya dibebankan pada sekolah/kampus?

Mari kita lihat teori pembagian pendidikan di Bali jaman dulu. Pendidikan sangat tergantung kepada guru/pendidik, karena merupakan central dari pendidikan. Di Bali dikenal ada empat jenis guru (catur guru), yaitu: guru rupaka (orangtua), guru pengajian (guru di sekolah), guru reka (pemerintah/masyarakat), dan guru swadhyaya (Sang Hyang Widhi atau Tuhan Yang Mahaesa). Jadi tanggung jawab pendidikan tidak bisa hanya dan hanya dibebankan pada satu macam guru saja (guru di sekolah). Mereka bukan lah tukang sulap yang pasti mampu menyulap siswa yang bodoh menjadi pintar dan sakti mandraguna. Namun, empat macam guru ini harus bersinergi dalam mendidik siswa. Paling tidak tiga macam guru yang pertama yang harus bertanggung jawab atas keberhasilan atau kegagalan siswa. Yang terakhir tergantung bagaimana siswa mendekatkan diri pada Tuhan untuk keberhasilannya dalam menempuh pendidikan.

Contoh yang sangat sederhana, seketat apapun aturan di sekolah ketika di rumah orangtuanya membiarkan anaknya ngedugem atau ikut kebut-kebutan bersama teman-temannya. Bagaimana pendidikan akan berhasil kalau orangtua yang seharusnya menjadi guru (guru rupaka) hanya membebankan tanggung jawabnya pada guru di sekolah? Contoh yang lain, di stasiun TV ada film dengan kode BO (Bimbingan Orangtua) tetapi orangtua tidak pernah menemani anaknya ketika si anak menonton film seperti ini. Ini contoh-contoh sederhana yang pasti terjadi di rumah yang orangtua-nya super sibuk, hik…

Demikian sekilas tentang guru yang harus kita banggakan, bukan dicaci-maki karena kegagalan siswanya.