Cilakrama II: Yamabrata

Yamabrata adalah brata pengendalian diri untuk mencapai kesempurnaan rohani dan kesucian batin berupa Dharma. Yamabrata ini juga merupakan syarat jika serius belajar Yoga (diulas dalam Patanjali Yogasutra).

Ahimsa brahmacaryanca
satyam awyawaharikam,
astainyam iti pancaite
yama rudrena bhasitah

Ahimsa dan Brahmacari, Satya, Awyawahara, Astainya, kelima ini disebut Yama (Panca Yamabrata) oleh Dewa Rudra.

Ahimsa ngaranya tan pamati-mati
brahmacarya ngaranya tan ahyun arabya,
satya ngaranya tatan mityawacana,
awyawaharika ngaranya tan awiwada,
tan adol awelya, tan pagunadosa,
astainya ngaranya tan amaling-maling
tan angalap drewyaning lyan yan tan ubhaya

Artinya: ahimsa namanya tidak membunuh, brahmacari namanya tak mau beristri, satya namanya tidak berdusta, awyawaharika namanya tidak suka bertengkar, tidak berjual beli, tidak menunjukkan kecakapan dan berdosa, astainya artinya tidak mencuri, tidak mengambil milik orang lain bila tidak dapat persetujuan kedua pihak.

Namun dalam Wratisasana, suatu lontar yang juga menguraikan tata tertib dan kesusilaan aguron-guron, menyebutkan susunan yang agak berbeda dengan yang disebutkan di atas (Ƈilakrama yang mendasarkan pada lontar Wrhaspati Tattwa), sebagai berikut:

Ahimsah brahmacaryanca
satyam aharalaghawah,
nasteyaƧca yamasapancah
rudrena parikirtitah

Artinya, Dewa Rudra menitahkan lima macam Yamabrata, yaitu ahimsa (tidak membunuh-bunuh), brahmacari (memelihara kemurnian dalam hal sex), satya (jujur), aharalaghawa (makan harus secukupnya, tidak semau-maunya saja), dan asteya (tidak melakukan penciruan, curang, dsb).

Tulis sebuah Komentar