Gurubhakti merupakan bagian terbesar dari lontar Çilakrama, yang berarti sujud bakti dan sikap hormat para siswa kerohanian (Çisya) terhadap Guru yang mendidik pribadi dan mencurahkan ilmu pengetahuannya terhadap para siswa kerohanian itu. Selain aturan seperti yang dijelaskan pada kutipan Çilakrama tadi, disebutkan juga bahwa seorang sisya tidak diijinkan memutus-mutus pembicaraan Guru, harus menurut apa yang diucapkan Guru, bila Guru datang ia harus turun dari tempat duduknya, bila melihat Guru berjalan atau berdiri selalu mengikuti di belakang. Bila berbicara terhadap Guru tidak boleh menoleh kesebelah atau kebelakang supaya tekun menerima ucapan-ucapan Guru dan selalu menyahut dengan ucapan-ucapan yang menyenangkan hati (Manohara). Lagi terdapat suatu kewajiban bagi seorang sisya, walaupun bagaimana marahnya bila Gurunya menasehati hendaklah diturutkannya.
Ada tiga yang disebut sebagai guru, yaitu Gururupaka yang artinya orangtua, Gurupangajyan, guru yang memberi pendidikan dan ilmu pengetahuan untuk mendapatkan kesempurnaan, dan Guruwisesa, yaitu pemerintah yang menjadi abdi kesejahteraan tempat rakyat bernaung di waktu kesusahan. Di antara ketiga Guru tersebut, Gurupangajyan mendapat penghormatan yang lebih dari kedua Guru yang lain, karena Gurupangajyan adalah Guru yang tidak hanya memberikan kesejahteraan atau kebahagiaan jasmani, tetapi terutama memberikan kesejahteraan atau kebahagiaan rohani yang disebut Dharma, yaitu pendidikan suci berupa kebajikan dan kesucian laksana yang membuka pintu untuk mendapatkan kebahagiaan akhirat (sorga) dan penjelmaan yang baik kemudian terutama memberi jalan untuk mencapai tujuan hidup yang tertinggi yang disebut Moksa.
Komentar: aturan gurubhakti ini memang diperuntukkan bagi sisya yang belajar kerohanian pada seorang guru kerohanian (Acarya). Apa yang bisa kita petik pada jaman modern ini adalah sikap hormat dan penurut pada guru kita. Dengan hormat dan menuruti apa yang diperintahkan guru kita, apa yang ingin disampaikan guru kepada kita akan dapat kita serap secara maksimal. Contoh yang paling sederhana, jika seorang guru memberikan tugas kepada kita, dan kita kerjakan dengan serius tugas itu, kita akan dapat manfaat dari tugas itu… berbeda dengan kalau kita mengabaikan tugas itu, kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Jaman sekarang, hormat dengan cara tunduk-tunduk di hadapan guru kita mungkin sudah tidak sesuai, namun hormat dalam arti respek terhadap guru masih bisa kita gunakan sampai kapanpun. Guru yang saya maksud di sini adalah guru yang mempunyai dan berpedoman pada etika sebagai guru.