Saat ini mungkin tidak banyak dari kita yang pernah mendengar atau mengetahui bagaimana seharusnya bersikap terhadap guru atau eks guru kita. Hubungan pergaulan yang semakin maju (entah lah apakah benar atau tidak), kebanyakan dari kita menganggap guru bak seorang teman, yang ketika kita kesal kepadanya kita memakinya. Apakah itu cara yang tepat untuk memperlakukan seorang guru?
Ada naskah kuno yang menguraikan tentang Çilakramaning aguron-guron, yang dikenal dengan nama Çilakrama. Çilakrama adalah naskah Jawa Kuno yang menguraikan kewajiban atau tata tertib seorang siswa (çisya) calon kerohanian atau calon pendeta yang hendak menerjunkan diri dalam hidup keagamaan untuk mencapai kesempurnaan hidup dan kesucian batin yang berupa kebajikan, keluhuran budi yang disebut Dharma untuk mendapatkan kebahagiaan akhirat, yaitu sorga dan penjelmaan yang sempurna, terutama untuk mencapai kebahagiaan rohani yang langgeng dan kebebasan roh dari penjelmaan yang disebut Moksa.
Dalam naskah Çilakrama diuraikan bagaimana seharusnya siswa menunjukkan sikap hormat atau sujud bhaktinya terhadap acarya atau gurunya dan pantangan-pantangan maupun keharusan lain yang harus mereka lakukan, hendaknya mereka dapat memahami ajaran-ajaran yang mereka terima, dan yang terpenting dapat selalu menjunjung tinggi Dharma dan Moksa itu. Naskah Çilakrama ini berisi empat bagian, yaitu Gurubhakti, Yamabrata, Niyamabrata, dan Guru dan Çisya.
Ini kutipan dalam naskah Çilakrama:
Nihan ta çililakramaning aguron-guron,
haywa tan bhakti ring guru, haywa himaniman,
haywa tan çakti ring sang guru, haywatan sadhu tuhwa,
haywa nikelana sapatuduhing sang guru,
haywa angideki wayangan sang guru,
haywa anglungguhi palungguhaning sang guru.
Artinya: Inilah tatatertib berguru (menuntut ilmu), janganlah tidak bakti terhadap guru, janganlah mencaci-maki guru, jangan segan kepada guru, jangan tidak tulus, jangan menentang segala perintah guru, jangan menginjak bayangan guru, jangan menduduki tempat duduk guru.
Kalau kita baca naskah ini, kita bisa terapkan pada semua guru, tidak harus guru kerohanian seperti yang tertulis pada naskah asli Çilakrama ini. Kebaikan bisa kita peroleh jika kita menghormati guru atau eks guru kita. Apapun yang pernah dilakukan guru kepada kita, itu adalah demi kebaikan kita.
(disalin dan disunting kembali dari buku “Çilakrama” karangan Drs. I.B. Oka Punyatmadja, 1984 ditambah komentar pribadi).