Cilakrama III: Niyamabrata

Selain dari Yamabrata, Çilakrama menyebutkan juga Niyamabrata sebagai pokok isinya. Arti Niyamabrata tidak jauh berbeda dengan arti Yamabrata, kedua-duanya berarti pengendalian diri untuk mencapai kesempurnaan dan kesucian lahir batin, berupa Dharma dan Moksa.

Patanjali Yogasutra dan Yogasaranggraha Wijnana Bhiksu menyebut Niyamabrata itu terdiri atas: Tapa, Swadhyaya, Santosha, Sauca, Iswarapranidhana atau Iswarapujana.

Çaucasantosatapah swadhyayayi-
çwarapranidhananiniyamah

Tapah swadhayayasantosah
çaucam içwarapujanam,
samasan niyamah prokta
yogasiddhipradayinah

Tapa sebenarnya berarti panas atau memanaskan diri, yang maksudnya menyakiti diri atau mengurangi kesenangan atau kenikmatan duniawi. Swadhyaya berarti belajar sendiri atau mengulangi mata pelajaran. Santosha berarti selalu merasa puas dengan segala kejadian. Sauca artinya bersih lahir batin dan Iswarapranidhana artinya rajin menyembah sujud bakti dan menyerahkan kehidupan kepada Iswara yaitu Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang, Pelindung Keadilan (maksudnya, rajin sembahyang, Red).

Dalam lontar Çilakrama terdapat sloka sebagai berikut:

Akrodha guruçucrusa
çaucam aharalaghawam,
apramadaç ca pancaite
niyamah çiwabheasitah

Akrodha ngaranya tan kataman krodha, guruçucrusa ngaranya lot makareket ring guru, makanimitta hynnirengo warawarah sang guru, çauca ngaranya nitya çaucarcapa ring bhatara, aharalaghawa ngaranya tan barang-barang pinangan, apramada ngaranya tan paleh-paleh angabhyasa sang hyang kabhujanggan. Kalima ika niyamabrata ngaranya ling bhatara Çiwa.

Artinya: yang bernama akrodha (ialah) tidak suka marah, yang bernama guruçucrusa, ingin dekat dengan Guru karena ingin mendengar (pelajaran) Guru, yang bernama sauca selalu çaucarcana (mendoa, mohon kebersihan lahir batin) terhadap Tuhan. Yang bernama aharalaghawa, tidak sembarangan (makanan) dimakan, apramada namanya tidak segan-segan membiasakan ajaran kerohanian. Kelima itu, bernama Nyamabrata, sabda Bhatara Çiwa.

Komentar: Meskipun Niyamabrata menurut Patanjali maupun menurut Çilakrama sedikit berbeda, namun pada prinsipnya bertujuan sama, yaitu kesucian lahir batin. Kelima hal ini dapat meningkatkan konsentrasi seorang murid untuk belajar, apapun jenis pelajaran yang sedang ditempuhnya.

Cilakrama II: Yamabrata

Yamabrata adalah brata pengendalian diri untuk mencapai kesempurnaan rohani dan kesucian batin berupa Dharma. Yamabrata ini juga merupakan syarat jika serius belajar Yoga (diulas dalam Patanjali Yogasutra).

Ahimsa brahmacaryanca
satyam awyawaharikam,
astainyam iti pancaite
yama rudrena bhasitah

Ahimsa dan Brahmacari, Satya, Awyawahara, Astainya, kelima ini disebut Yama (Panca Yamabrata) oleh Dewa Rudra.

Ahimsa ngaranya tan pamati-mati
brahmacarya ngaranya tan ahyun arabya,
satya ngaranya tatan mityawacana,
awyawaharika ngaranya tan awiwada,
tan adol awelya, tan pagunadosa,
astainya ngaranya tan amaling-maling
tan angalap drewyaning lyan yan tan ubhaya

Artinya: ahimsa namanya tidak membunuh, brahmacari namanya tak mau beristri, satya namanya tidak berdusta, awyawaharika namanya tidak suka bertengkar, tidak berjual beli, tidak menunjukkan kecakapan dan berdosa, astainya artinya tidak mencuri, tidak mengambil milik orang lain bila tidak dapat persetujuan kedua pihak.

Namun dalam Wratisasana, suatu lontar yang juga menguraikan tata tertib dan kesusilaan aguron-guron, menyebutkan susunan yang agak berbeda dengan yang disebutkan di atas (Çilakrama yang mendasarkan pada lontar Wrhaspati Tattwa), sebagai berikut:

Ahimsah brahmacaryanca
satyam aharalaghawah,
nasteyaçca yamasapancah
rudrena parikirtitah

Artinya, Dewa Rudra menitahkan lima macam Yamabrata, yaitu ahimsa (tidak membunuh-bunuh), brahmacari (memelihara kemurnian dalam hal sex), satya (jujur), aharalaghawa (makan harus secukupnya, tidak semau-maunya saja), dan asteya (tidak melakukan penciruan, curang, dsb).

Cilakrama I: Gurubhakti

Gurubhakti merupakan bagian terbesar dari lontar Çilakrama, yang berarti sujud bakti dan sikap hormat para siswa kerohanian (Çisya) terhadap Guru yang mendidik pribadi dan mencurahkan ilmu pengetahuannya terhadap para siswa kerohanian itu. Selain aturan seperti yang dijelaskan pada kutipan Çilakrama tadi, disebutkan juga bahwa seorang sisya tidak diijinkan memutus-mutus pembicaraan Guru, harus menurut apa yang diucapkan Guru, bila Guru datang ia harus turun dari tempat duduknya, bila melihat Guru berjalan atau berdiri selalu mengikuti di belakang. Bila berbicara terhadap Guru tidak boleh menoleh kesebelah atau kebelakang supaya tekun menerima ucapan-ucapan Guru dan selalu menyahut dengan ucapan-ucapan yang menyenangkan hati (Manohara). Lagi terdapat suatu kewajiban bagi seorang sisya, walaupun bagaimana marahnya bila Gurunya menasehati hendaklah diturutkannya.

Ada tiga yang disebut sebagai guru, yaitu Gururupaka yang artinya orangtua, Gurupangajyan, guru yang memberi pendidikan dan ilmu pengetahuan untuk mendapatkan kesempurnaan, dan Guruwisesa, yaitu pemerintah yang menjadi abdi kesejahteraan tempat rakyat bernaung di waktu kesusahan. Di antara ketiga Guru tersebut, Gurupangajyan mendapat penghormatan yang lebih dari kedua Guru yang lain, karena Gurupangajyan adalah Guru yang tidak hanya memberikan kesejahteraan atau kebahagiaan jasmani, tetapi terutama memberikan kesejahteraan atau kebahagiaan rohani yang disebut Dharma, yaitu pendidikan suci berupa kebajikan dan kesucian laksana yang membuka pintu untuk mendapatkan kebahagiaan akhirat (sorga) dan penjelmaan yang baik kemudian terutama memberi jalan untuk mencapai tujuan hidup yang tertinggi yang disebut Moksa.

Komentar: aturan gurubhakti ini memang diperuntukkan bagi sisya yang belajar kerohanian pada seorang guru kerohanian (Acarya). Apa yang bisa kita petik pada jaman modern ini adalah sikap hormat dan penurut pada guru kita. Dengan hormat dan menuruti apa yang diperintahkan guru kita, apa yang ingin disampaikan guru kepada kita akan dapat kita serap secara maksimal. Contoh yang paling sederhana, jika seorang guru memberikan tugas kepada kita, dan kita kerjakan dengan serius tugas itu, kita akan dapat manfaat dari tugas itu… berbeda dengan kalau kita mengabaikan tugas itu, kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Jaman sekarang, hormat dengan cara tunduk-tunduk di hadapan guru kita mungkin sudah tidak sesuai, namun hormat dalam arti respek terhadap guru masih bisa kita gunakan sampai kapanpun. Guru yang saya maksud di sini adalah guru yang mempunyai dan berpedoman pada etika sebagai guru.

Cilakrama: tatakrama antara murid dan guru

Saat ini mungkin tidak banyak dari kita yang pernah mendengar atau mengetahui bagaimana seharusnya bersikap terhadap guru atau eks guru kita. Hubungan pergaulan yang semakin maju (entah lah apakah benar atau tidak), kebanyakan dari kita menganggap guru bak seorang teman, yang ketika kita kesal kepadanya kita memakinya. Apakah itu cara yang tepat untuk memperlakukan seorang guru?

Ada naskah kuno yang menguraikan tentang Çilakramaning aguron-guron, yang dikenal dengan nama Çilakrama. Çilakrama adalah naskah Jawa Kuno yang menguraikan kewajiban atau tata tertib seorang siswa (çisya) calon kerohanian atau calon pendeta yang hendak menerjunkan diri dalam hidup keagamaan untuk mencapai kesempurnaan hidup dan kesucian batin yang berupa kebajikan, keluhuran budi yang disebut Dharma untuk mendapatkan kebahagiaan akhirat, yaitu sorga dan penjelmaan yang sempurna, terutama untuk mencapai kebahagiaan rohani yang langgeng dan kebebasan roh dari penjelmaan yang disebut Moksa.

Dalam naskah Çilakrama diuraikan bagaimana seharusnya siswa menunjukkan sikap hormat atau sujud bhaktinya terhadap acarya atau gurunya dan pantangan-pantangan maupun keharusan lain yang harus mereka lakukan, hendaknya mereka dapat memahami ajaran-ajaran yang mereka terima, dan yang terpenting dapat selalu menjunjung tinggi Dharma dan Moksa itu. Naskah Çilakrama ini berisi empat bagian, yaitu Gurubhakti, Yamabrata, Niyamabrata, dan Guru dan Çisya.

Ini kutipan dalam naskah Çilakrama:

Nihan ta çililakramaning aguron-guron,
haywa tan bhakti ring guru, haywa himaniman,
haywa tan
çakti ring sang guru, haywatan sadhu tuhwa,
haywa nikelana sapatuduhing sang guru,
haywa angideki wayangan sang guru,
haywa anglungguhi palungguhaning sang guru.

Artinya: Inilah tatatertib berguru (menuntut ilmu), janganlah tidak bakti terhadap guru, janganlah mencaci-maki guru, jangan segan kepada guru, jangan tidak tulus, jangan menentang segala perintah guru, jangan menginjak bayangan guru, jangan menduduki tempat duduk guru.

Kalau kita baca naskah ini, kita bisa terapkan pada semua guru, tidak harus guru kerohanian seperti yang tertulis pada naskah asli Çilakrama ini. Kebaikan bisa kita peroleh jika kita menghormati guru atau eks guru kita. Apapun yang pernah dilakukan guru kepada kita, itu adalah demi kebaikan kita.

(disalin dan disunting kembali dari buku “Çilakrama” karangan Drs. I.B. Oka Punyatmadja, 1984 ditambah komentar pribadi).

Renungan Nitisastra

Pemimpin Negara yang tidak bijak dan adil
Pemimpin agama yang tidak menyejukkan umatnya
Ksatria yang tidak melindungi rakyatnya
Ilmuwan yang tidak jujur dan tidak memberikan kebaruan
Hartawan yang tidak bersifat dermawan
Ahli pengobatan yang tidak tulus mengobati
Masyarakat yang tidak santun dan disiplin
Tanah yang tidak subur
Lingkungan yang tidak bersih, tidak sehat, dan indah.
TIDAKLAH BERMANFAAT BAGI KEHIDUPAN MANUSIA.

Rajalah yang menerima dosa yang diperbuat oleh rakyatnya
Bagawantalah yang menerima dosa yang diperbuat oleh raja
Suamilah yang menerima dosa yang diperbuat oleh Istri
Ibulah yang menerima dosa yang diperbuat oleh anaknya
Gurulah yang menerima dosa yang diperbuat oleh murid.

(dikirim oleh Jero Mangku Sudiada)

Zameer (judul film)

Dalam hidup ada hal-hal yang kita sering kehilangan, tapi ada juga yang kita miliki. Dan mendapatkannya saat kita tak mengharapkannya.

Marah dan Tuhan

Percakapan antara Anjeli (A) dan Ram (A)

A: Kau percaya pada Tuhan?
R: Apa kau tak percaya?
A: Tidak
R: Kau tak percaya pada Tuhan?
A: Tidak
R: Kenapa?
A: Kita manusia hanya hambanya.. Dia yang kendalikan kita. Setiap saat dia bisa permainkan kita. Dan kita menari mengikuti isyaratnya.
R: Tidak, Anjeli. Dia orangtua kita.. dan orangtua tidak permainkan anak2nya. Meski anak2 tidak bersyukur pada-Nya. Tapi Tuhan tidak marah pada anak2nya.
A: Baiknya jangan beri harapan palsu.
R: Dengar, kau marah? Anjeli, kau cepat marah. Kukatakan satu hal.. bila kau marah, ingat satu kata2ku.. pejamkan matamu, tarik nafas panjang dan sebut kata AUM 3x. Lalu sebut nama Tuhan. Dalam sekejap marahmu lenyap.

Kebencian hanya bisa dimenangkan dengan cinta. Hanya dengan cinta. Kejahatan bisa dikalahkan dengan kebaikan. Keburukan bisa dilenyapkan dengan kebaikan. Dendam hati bisa dipadamkan dengan kedamaian. Kami tinggal di perkampungan manusia dan bisa tinggal sebagai manusia. Bukan sebagai hewan.

(dikutip dari film ”Dil ne yeh kahan”)

Ketika harapan tidak sesuai keinginan

Kata siapa kau kalah?
Kata siapa aku menang?
Apa sesama hanya meninggalkan itu saja?
Apa soal pertandingan dan permusuhan?
Kenapa kau anggap aku musuhmu?
Kenapa kau akui aku sebagai musuh?
Pernah kau dan Anjeli saling bertemu…
Dua insan kian mendekat, banyak melihat mimpi-mimpi indah…
Banyak membina mimpi-mimpi indah.
Tapi dalam sekejap…
Takdir menghancurkan impian-impian itu.
Takdir’kan tak kasihan padamu? Dia tak iba padamu.
Bagaimana aku membencimu dan menganggap kau musuhku?
Apa salahmu? Kesalahanmu adalah kau mencintai seseorang.
Kau hanya mencintai, bukan berbuat dosa’kan?
Kukatakan satu hal Dev, di dunia ini banyak insan…
Dan setiap insan ingin menuliskan nasibnya sendiri.
Tapi mereka tak mampu, karena yang menulis takdir adalah Tuhan.
Itu keputusan dan permainan-Nya. Itu takdir dan perjodohan.

(kutipan di film ”Dil ne yeh kahan”)

Rasa lapar bisa membuat manusia meninggalkan jalan kebenaran

Cerita musang berbulu emas pada saat Yudhistira melakukan upacara “aswamedha yajna” (kurban kuda). Jauh sebelum padang Kuruksetra menjadi medan perang antara Pandawa dan Kurawa, hiduplah seorang brahmana. Ia hidup dari mengumpulkan sisa-sisa panen yang tertinggal di tegalan. Keempat orang itu hidup dengan cara tersebut. Setiap sore, mereka duduk berempat dan menikmati makanan yang mereka peroleh selama sehari itu. Ketika tidak mendapatkan sisa panen, mereka akan berpuasa sampai sore hari yang kemudian. Mereka tidak pernah menyimpan apa pun yang mereka peroleh untuk hari berikutnya. Mereka menjalani disiplin unchhawritti yang ketat.

Demikianlah mereka menjalani hidup mereka. Suatu hari ketika musim kering datang dan kelaparan melanda seluruh penjuru negeri. Tidak ada lagi orang yang mengolah tanah dan oleh karena itu tidak ada yang membajak sawah atau panen. Pendeknya tidak ada lagi sisa panen di tegalan. Selama beberapa hari keluarga brahmana ini kelaparan. Suatu hari, setelah berkelana ke sana ke mari menahan lapar, mereka berhasil mendapatkan sekantong tepung jagung. Seperti biasanya mereka duduk bersama-sama dan berdoa mengucap syukur kepada Yang Maha Kuasa. Setelah itu mereka membagi apa yang mereka peroleh secara adil. Kemudian, mereka duduk bersiap untuk menuntaskan rasa lapar. Persis pada saat itu, seorang brahmana masuk. Tampaknya ia sangat kelaparan. Melihat ada tamu, mereka segera bangkit berdiri dan menerimanya dengan baik. Mereka mengajaknya untuk ikut makan. Keluarga brahmana yang berhati murni itu sangat bahagia kedatangan tamu seorang brahmana. Bagi mereka ini adalah keberuntungan. Kata sang brahmana, “Brahmana yang terhormat, aku hanyalah brahmana miskin. Tepung jagung ini kami peroleh sesuai dengan jalan dharma. Mohon pemberian ini diterima. Semoga engkau diberkati.” Katanya sambil mengulurkan jatah makannya. Tamu itu langsung menghabiskan makanan itu dengan lahap. Tapi ia masih tampak kelaparan.

Melihat tamunya masih kelihatan lapar, brahmana itu sangat sedih. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan ketika istrinya berkata, “Tuanku, berikan juga jatahku. Aku akan gembira jika tamu kita bisa merasa kenyang.” Setelah berkata demikian, ia berikan bagiannya kepada suaminya supaya diberikan kepada sang tamu.

Kata suaminya, “Istriku yang setia, binatang buas, burung-burung, dan semua binatang merawat istrinya dengan penuh perhatian. Apakah manusia bisa bertindak lebih buruk? Aku tidak bisa menerima usulanmu. Hukuman macam apakah yang akan kuperoleh di kehidupan yang akan datang jika aku biarkan kau kelaparan. Engkau telah membantu dan melayaniku untuk menjalankan tugas suci kehidupan rumah tangga. Bagaimana mungkin aku membiarkanmu menderita seperti itu dan berharap berbuat kebajikan demi memberi makan seorang tamu. Tidak, aku tidak bisa menerima usulanmu.”

Jawab istrinya, “brahmana suamiku, engkau terpelajar dalam kitab-kitab sastra. Bukankah dharma, artha, dan semua kegiatan manusia semuanya sama bagi kita berdua yang telah menjalani hidup bersama? Lihatlah padaku dengan pandangan kasih dan berikan bagianku kepada tamu kita. Biarlah aku lapar seperti halnya engkau. Aku mohon jangan tolak pemberian ini.”

Akhirnya brahmana itu mengalah. Ia terima bagian istrinya dan ia berikan kepada sang tamu. Tamu itu langsung menyikat habis makanan yang diberikan. Tetapi ia masih tetap lapar! Brahmana miskin itu sangat sedih. Melihat kesedihan ayahnya, sang anak mendekat dan katanya, “Ini bagianku. Berikan kepada tamu kita yang tampaknya masih kelaparan. Aku akan gembira jika kita bisa menunaikan kewajiban kita.”

Sang ayah bertambah sedih. “Anakku, orangtua masih bisa menahan lapar. Rasa lapar yang dialami anak muda jauh lebih tidak tertahankan. Hatiku sulit menerima pemberianmu ini.”

Sang anak bersikeras membarikan bagiannya, “Seorang anak wajib merawat orangtuanya yang beranjak tua. Anak tidak berbeda dengan orangtuanya. Bukankah dikatakan bahwa orangtua terlahir kembali dalam diri anak. Aku mohon ayah mau menerima ini dan berikan kepada tamu kita yang lapar.”

“Anakku terkasih, kau sungguh berhati mulia dan kemampuanmu menanggung derita membuatku bangga. Terberkatilah engkau. Baiklah, aku terima pemberianmu!” kata ayah itu. Ia segera berikan bagian anaknya itu kepada sang tamu. Sang tamu segera menuntaskan makanan itu. Ia masih saja kelaparan! Brahmana, yang hidup dari mengumpulkan sisa panen yang tercecer itu, kebingungan.

Sementara ia kebingungan, tidak tahu apa yang mesti dilakukan, menantu perempuannya mendekatinya dan berkata, “Ayah, aku akan berikan bagianku juga. Mohon diterima untuk melengkapi kewajiban kita memberi makan pada tamu. Aku mohon ayah berkenan menerima dan memberkati aku, putrimu, supaya aku mendapat ganjaran yang lebih abadi.”

Ayah yang brahmana itu sedih tidak terkira. Katanya, “Oh, anakku yang berhati mulia, meskipun wajahmu sudah pucat dan badanmu kurus seperti ini, engkau masih saja mau memberikan bagianmu kepadaku supaya aku bisa berbuat kebajikan pada tamu kita. Jika aku terima pemberianmu, aku akan berbuat kejam. Bagaimana mungkin aku membiarkanmu gemetar kelaparan?”

Sang menantu tidak mau mengindahkan. “Ayah, engkau adalah tuan dari tuanku, guru dari guruku, dewa dari dewaku. Aku mohon Ayah berkenan menerima makanan ini. Bukankah seluruh badanku telah kupersembahkan untuk mengabdi pada tuanku? Ayah harus membantuku untuk berbuat kebajikan. Ambilah makanan ini, aku mohon.”

Setelah didesak-desak, akhirnya brahmana itu mau menerima bagian menantu perempuannya. Katanya, “Anakku yang setia, semoga engkau mendapatkan ganjaran yang setimpal.”

Sang tamu menerima bagian terakhir itu dengan suka hati. Ia segera habiskan makanan itu dan ia kenyang! “Terberkatilah kebaikan hati kalian, yang kalian berikan dengan niat murni dan dengan segenap kemampuan kalian. Pengorbanan kalian sungguh membuatku senang. Lihatlah di sana! Para dewa menurunkan hujan bunga untuk memberikan pujian pada pengorbanan kalian yang luar biasa. Lihatlah! Para dewa dan gandarwa turun ke bumi dengan kereta-kereta kencana bersama para pelayan untuk menjemput kalian ke surga. Pengorbananmu mendapat ganjaran surga bagi kalian dan leluhur kalian. Rasa lapar menghancurkan akal sehat manusia. Rasa lapar bisa membuat orang berpikiran jahat. Bahkan orang yang saleh sekalipun, karena rasa lapar, bisa kehilangan ketabahan hati. Tapi engkau, bahkan ketika lapar mendera, masih bisa menanggalkan keterikatan pada istri dan anak dan tetap memilih jalan dharma. Upacara Rajasuya dan upacara kurban kuda yang dilaksanakan dengan megah akan tampak tidak berarti jika dibandingkan dengan pengorbanan yang kalian lakukan. Lihatlah, kereta kuda sudah menantikan kalian. Naiklah dan berangkatlah ke surga.” Setelah berkata demikian, tamu misterius itu menghilang.

Iri hati: penyakit universal

Manusia yang paling bijaksana pun kadang masih terpengaruh iri hati dan oleh karena itu mengalami penderitaan. Begawan Wiyasa menceritakan sepenggal kisah hidup Brihaspati, guru para dewa kepada Yudhistira. Brihaspati adalah mahaguru semua ilmu pengetahuan. Ia telah mempelajari semua kitab Weda dan ilmu pengetahuan. Meskipun demikian, ia pernah dikuasai perasaan rendahan ini (iri hati, Red) dan dibuat malu olehnya.

Brihaspati mempunyai saudara muda, Samwarta. Ia juga orang yang berpengetahuan luas dan orang yang sangat baik. Karena alasan itu, Brihaspati merasa iri pada saudaranya. Di dunia ini, orang merasa iri pada orang lain karena orang lain lebih baik. Kemudian, orang tidak bisa menerima kenyataan. Hal ini sebenarnya aneh karena orang tidak perlu merasa menderita disebabkan kebaikan orang lain. Karena iri hati itu, Brihaspati mengusik Samwarta dengan berbagai cara. Ketika Samwarta tidak tahan lagi dengan gangguan Brihaspati, ia memutuskan untuk berlaku seperti orang gila dan berkelana dari satu tempat ke tempat lain. Dengan cara itu, ia bisa melepaskan diri dari siksaan kakaknya.

Setelah melakukan tapa brata yang sangat berat, Raja Marutta dari dinasti Ikshwaku mendapatkan anugerah dari Batara Kailasa sebuah tambang emas yang sangat besar di Himalaya. Dengan kekayaan yang diperolehnya, ia berencana menyelenggarakan yajna (upacara korban) agung. Marutta meminta Brihaspati untuk memimpin upacara tersebut. Tetapi, Brihaspati khawatir karena yajna itu Marutta akan mengalahkan para dewa, yang adalah murid-muridnya. Ia menolak permintaan raja itu, meskipun Marutta terus mendesaknya. Raja Marutta tahu kehebatan Samwarta. Ia berusaha mencari Samwarta dan memintanya untuk memimpin upacara untuknya. Semula Samwarta menolak dan berusaha menghindar dari kehormatan itu. Tapi setelah didesak-desak, akhirnya ia menyatakan kesediaan. Kesediaan memimpin upacara itu semakin membuat Brihaspati iri pada saudara mudanya.

“Musuhku, Samwarta akan memimpin upacara agung yajna. Apa yang harus aku lakukan?” Pikiran Brihaspati selalu dipenuhi dengan iri hati sampai kesehatannya terganggu. Kesehatannya merosot drastis dan ia menjadi kurus dan pucat. Semakin hari keadaannya semakin buruk sampai Batara Indra pun ikut khawatir.

Batara Indra, pemimpin para dewa, menghadap mahaguru para dewa itu dan menghaturkan hormat. Tanyanya, “Mahaguru, apa yang membuatmu sakit? Apa yang menyebankan engkau tampak menderita? Apakah mahaguru tidak bisa tidur nyenyak? Apakah para pelayan tidak melayanimu dengan baik? Apakah para dewa tidak bertindak sebagaimana mestinya padamu atau ada masalah lain?”

Brihaspati menjawab pertanyaan Indra yang mengkhawatirkan keadaannya, “Paduka Raja, aku tidur di atas ranjang yang nyaman dan bisa tidur dengan baik. Para pelayan melayaniku dengan penuh perhatian. Tidak ada masalah dengan sikap para dewa.” Kemudian, terhenti, tidak bisa melanjutkan bicara. Tampak benar kerisauan yang mengganggu pikiran sang mahaguru.

Tanya Indra penuh perhatian, “Apa yang mengganggu pikiranmu? Mengapa engkau semakin kurus dan pucat? Katakan padaku apa yang membuat risau hatimu?”

Brihaspati menceritakan semua yang merisaukan hatinya. Katanya, “Samwarta akan memimpin upacara yajna agung. Inilah yang membuatku semakin kurus dan pucat. Inilah yang membuat hatiku amat risau.”

Batara Indra sangat terkejut. “Brahmana yang kuhormati, engkau sudah mendapatkan semua yang kau inginkan. Engkau bijaksana dan terpelajar. Para dewa menganggapmu sebagai guru dan penasihat yang bijak. Kesalahan apa yang dilakukan Samwarta padamu? Mengapa kau biarkan rasa iri membuatmu menderita?”

Tetapi sang mahaguru mengingatkan Indra, “Apakah engkau sendiri senang melihat musuhmu bertambah kuat? Hakimilah aku dengan apa yang kau rasakan jika kau pada posisiku. Aku mohon engkau berkenan membantuku melawan Samwarta. Engkau harus temukan cara untuk mengalahkan Samwarta.”

Indra menyuruh Batara Agni menghadap. Katanya, “Pergilah dan hentikan yajna yang akan dipimpin oleh Samwarta.”

Dewa api itu setuju dan segera menunaikan perintah rajanya. Pohon-pohon dan tanaman menjalar di sepanjang jalan yang dilewati dewa api itu ikut terbakar dan bumi ikut gemetar menyaksikannya. Dengan rupa dewa, Batara Agni menunjukkan diri di hadapan raja.

Raja amat gembira melihat Batara Agni menampakkan diri di hadapannya. Ia perintahkan para pelayan untuk melayani tamu terhormat itu dengan sebaik-baiknya. Kata sang raja, “Persilakan tamu agung kita ini duduk. Bersihkan kakinya dan bawalah persembahan yang pantas untuk tamu agung ini.” Para pelayan langsung melaksanakan perintah itu.

Kemudian Batara Agni menjelaskan maksud kedatangannya. Katanya, “Suruhlah Samwarta pergi. Jika engkau membutuhkan pendeta, aku akan bawa Brihaspati sendiri untuk memimpin upacaramu.”

Mendengar kata-kata Batara Agni, Samwarta sangat gusar. Tuah amarah orang yang menjalani hidup sebagai brahmacarin secara ketat amat menakutkan. Katanya kepada Batara Agni, “Hentikan omong kosong itu! Jangan biarkan amarahku membakarmu hidup-hidup.”

Api bisa membakar apa pun menjadi abu, tetapi seorang brahmacarya bisa membakar api itu sendiri!

Melihat amarah Samwarta, Batara Agni gemetar ketakutan seperti daun-daun pohon aspen. Ia pun segera undur diri. Ia kembali kepada Batara Indra dan mengatakan apa yang terjadi. Raja para dewa itu tidak bisa percaya pada apa yang ia dengar. Katanya, “Agni, engkau bisa membakar habis semua yang ada di muka bumi ini. Bagaimana mungkin ada yang bisa mebakar habis dirimu? Bagaimana mungkin mata Samwarta yang membara bisa membakar dirimu menjadi abu?”

Jawab Batara Agni, “Mohon jangan salah mengerti. Paduka pasti sudah tahu kesaktian seorang brahmana dan brahmacarya.” Demikian Batara Agni mengingatkan Batara Indra yang juga pernah mengalami tuah amarah orang yang telah mencapai tingkatan brahmacarya.

Batara Indra tiak mau berpanjang kata. Ia segera memanggil gandarwa. Katanya, “Batara Agni gagal menunaikan tugas ini. Aku utus kau untuk menghadap Raja Marutta. Katakan kepadanya untuk menyuruh Samwarta pergi. Katakan kepadanya jika ia tidak menurut, Batara Indra sendiri yang akan datang dan menghancurkanmu.”

Seperti yang diperintahkan, gandarwa itu langsung pergi menuju istana Raja Marutta. Ia sampaikan pesan dan peringatan Batara Indra.

Sang raja tidak mau mendengar. Katanya, “Aku tidak mau menanggung dosa yang tidak terampuni, meninggalkan sahabat yang terpercaya. Aku tidak bisa meminta Samwarta pergi.”

Kata gandarwa itu, “Tuanku Raja, apakah engkau bisa menyelamatkan nyawamu jika Batara Indra melepaskan senjata dewatanya?”

Belum selesai gandarwa itu bicara, langit mengelegar. Petir menyambar-nyambar. Semua orang tahu itu menandakan kedatangan dewa petir. Mereka semua ketakutan.

Raja amat ketakutan dan mohon perlindungan pada Samwarta. Kata Samwarta kepada sang raja, “Jangan takut.” Ia segera melangkah maju dan bersiap mengeluarkan kesaktian dari tapa bratanya. Batara Indra yang telah bersiap untuk bertempur terpaksa berdamai dan ikut ambil bagian dalam yajna sebagai persembahan. Ia berkenan menerima upacara korban. Setelah upacara selesai, ia kembali ke kahyangan.

Rencana jahat Brihaspati gagal total. Sang brahmacarya menang dengan gilang gemilang.

Iri hati adalah dosa yang fatal. Iri hati adalah penyakit universal. Jika Brihaspati sendiri yang adalah orang yang bisa mengalahkan dewi pengetahuan saja bisa jatuh ke dalam iri hati, bagaimana dengan manusia biasa?

« Entri lama