Manusia yang paling bijaksana pun kadang masih terpengaruh iri hati dan oleh karena itu mengalami penderitaan. Begawan Wiyasa menceritakan sepenggal kisah hidup Brihaspati, guru para dewa kepada Yudhistira. Brihaspati adalah mahaguru semua ilmu pengetahuan. Ia telah mempelajari semua kitab Weda dan ilmu pengetahuan. Meskipun demikian, ia pernah dikuasai perasaan rendahan ini (iri hati, Red) dan dibuat malu olehnya.
Brihaspati mempunyai saudara muda, Samwarta. Ia juga orang yang berpengetahuan luas dan orang yang sangat baik. Karena alasan itu, Brihaspati merasa iri pada saudaranya. Di dunia ini, orang merasa iri pada orang lain karena orang lain lebih baik. Kemudian, orang tidak bisa menerima kenyataan. Hal ini sebenarnya aneh karena orang tidak perlu merasa menderita disebabkan kebaikan orang lain. Karena iri hati itu, Brihaspati mengusik Samwarta dengan berbagai cara. Ketika Samwarta tidak tahan lagi dengan gangguan Brihaspati, ia memutuskan untuk berlaku seperti orang gila dan berkelana dari satu tempat ke tempat lain. Dengan cara itu, ia bisa melepaskan diri dari siksaan kakaknya.
Setelah melakukan tapa brata yang sangat berat, Raja Marutta dari dinasti Ikshwaku mendapatkan anugerah dari Batara Kailasa sebuah tambang emas yang sangat besar di Himalaya. Dengan kekayaan yang diperolehnya, ia berencana menyelenggarakan yajna (upacara korban) agung. Marutta meminta Brihaspati untuk memimpin upacara tersebut. Tetapi, Brihaspati khawatir karena yajna itu Marutta akan mengalahkan para dewa, yang adalah murid-muridnya. Ia menolak permintaan raja itu, meskipun Marutta terus mendesaknya. Raja Marutta tahu kehebatan Samwarta. Ia berusaha mencari Samwarta dan memintanya untuk memimpin upacara untuknya. Semula Samwarta menolak dan berusaha menghindar dari kehormatan itu. Tapi setelah didesak-desak, akhirnya ia menyatakan kesediaan. Kesediaan memimpin upacara itu semakin membuat Brihaspati iri pada saudara mudanya.
“Musuhku, Samwarta akan memimpin upacara agung yajna. Apa yang harus aku lakukan?” Pikiran Brihaspati selalu dipenuhi dengan iri hati sampai kesehatannya terganggu. Kesehatannya merosot drastis dan ia menjadi kurus dan pucat. Semakin hari keadaannya semakin buruk sampai Batara Indra pun ikut khawatir.
Batara Indra, pemimpin para dewa, menghadap mahaguru para dewa itu dan menghaturkan hormat. Tanyanya, “Mahaguru, apa yang membuatmu sakit? Apa yang menyebankan engkau tampak menderita? Apakah mahaguru tidak bisa tidur nyenyak? Apakah para pelayan tidak melayanimu dengan baik? Apakah para dewa tidak bertindak sebagaimana mestinya padamu atau ada masalah lain?”
Brihaspati menjawab pertanyaan Indra yang mengkhawatirkan keadaannya, “Paduka Raja, aku tidur di atas ranjang yang nyaman dan bisa tidur dengan baik. Para pelayan melayaniku dengan penuh perhatian. Tidak ada masalah dengan sikap para dewa.” Kemudian, terhenti, tidak bisa melanjutkan bicara. Tampak benar kerisauan yang mengganggu pikiran sang mahaguru.
Tanya Indra penuh perhatian, “Apa yang mengganggu pikiranmu? Mengapa engkau semakin kurus dan pucat? Katakan padaku apa yang membuat risau hatimu?”
Brihaspati menceritakan semua yang merisaukan hatinya. Katanya, “Samwarta akan memimpin upacara yajna agung. Inilah yang membuatku semakin kurus dan pucat. Inilah yang membuat hatiku amat risau.”
Batara Indra sangat terkejut. “Brahmana yang kuhormati, engkau sudah mendapatkan semua yang kau inginkan. Engkau bijaksana dan terpelajar. Para dewa menganggapmu sebagai guru dan penasihat yang bijak. Kesalahan apa yang dilakukan Samwarta padamu? Mengapa kau biarkan rasa iri membuatmu menderita?”
Tetapi sang mahaguru mengingatkan Indra, “Apakah engkau sendiri senang melihat musuhmu bertambah kuat? Hakimilah aku dengan apa yang kau rasakan jika kau pada posisiku. Aku mohon engkau berkenan membantuku melawan Samwarta. Engkau harus temukan cara untuk mengalahkan Samwarta.”
Indra menyuruh Batara Agni menghadap. Katanya, “Pergilah dan hentikan yajna yang akan dipimpin oleh Samwarta.”
Dewa api itu setuju dan segera menunaikan perintah rajanya. Pohon-pohon dan tanaman menjalar di sepanjang jalan yang dilewati dewa api itu ikut terbakar dan bumi ikut gemetar menyaksikannya. Dengan rupa dewa, Batara Agni menunjukkan diri di hadapan raja.
Raja amat gembira melihat Batara Agni menampakkan diri di hadapannya. Ia perintahkan para pelayan untuk melayani tamu terhormat itu dengan sebaik-baiknya. Kata sang raja, “Persilakan tamu agung kita ini duduk. Bersihkan kakinya dan bawalah persembahan yang pantas untuk tamu agung ini.” Para pelayan langsung melaksanakan perintah itu.
Kemudian Batara Agni menjelaskan maksud kedatangannya. Katanya, “Suruhlah Samwarta pergi. Jika engkau membutuhkan pendeta, aku akan bawa Brihaspati sendiri untuk memimpin upacaramu.”
Mendengar kata-kata Batara Agni, Samwarta sangat gusar. Tuah amarah orang yang menjalani hidup sebagai brahmacarin secara ketat amat menakutkan. Katanya kepada Batara Agni, “Hentikan omong kosong itu! Jangan biarkan amarahku membakarmu hidup-hidup.”
Api bisa membakar apa pun menjadi abu, tetapi seorang brahmacarya bisa membakar api itu sendiri!
Melihat amarah Samwarta, Batara Agni gemetar ketakutan seperti daun-daun pohon aspen. Ia pun segera undur diri. Ia kembali kepada Batara Indra dan mengatakan apa yang terjadi. Raja para dewa itu tidak bisa percaya pada apa yang ia dengar. Katanya, “Agni, engkau bisa membakar habis semua yang ada di muka bumi ini. Bagaimana mungkin ada yang bisa mebakar habis dirimu? Bagaimana mungkin mata Samwarta yang membara bisa membakar dirimu menjadi abu?”
Jawab Batara Agni, “Mohon jangan salah mengerti. Paduka pasti sudah tahu kesaktian seorang brahmana dan brahmacarya.” Demikian Batara Agni mengingatkan Batara Indra yang juga pernah mengalami tuah amarah orang yang telah mencapai tingkatan brahmacarya.
Batara Indra tiak mau berpanjang kata. Ia segera memanggil gandarwa. Katanya, “Batara Agni gagal menunaikan tugas ini. Aku utus kau untuk menghadap Raja Marutta. Katakan kepadanya untuk menyuruh Samwarta pergi. Katakan kepadanya jika ia tidak menurut, Batara Indra sendiri yang akan datang dan menghancurkanmu.”
Seperti yang diperintahkan, gandarwa itu langsung pergi menuju istana Raja Marutta. Ia sampaikan pesan dan peringatan Batara Indra.
Sang raja tidak mau mendengar. Katanya, “Aku tidak mau menanggung dosa yang tidak terampuni, meninggalkan sahabat yang terpercaya. Aku tidak bisa meminta Samwarta pergi.”
Kata gandarwa itu, “Tuanku Raja, apakah engkau bisa menyelamatkan nyawamu jika Batara Indra melepaskan senjata dewatanya?”
Belum selesai gandarwa itu bicara, langit mengelegar. Petir menyambar-nyambar. Semua orang tahu itu menandakan kedatangan dewa petir. Mereka semua ketakutan.
Raja amat ketakutan dan mohon perlindungan pada Samwarta. Kata Samwarta kepada sang raja, “Jangan takut.” Ia segera melangkah maju dan bersiap mengeluarkan kesaktian dari tapa bratanya. Batara Indra yang telah bersiap untuk bertempur terpaksa berdamai dan ikut ambil bagian dalam yajna sebagai persembahan. Ia berkenan menerima upacara korban. Setelah upacara selesai, ia kembali ke kahyangan.
Rencana jahat Brihaspati gagal total. Sang brahmacarya menang dengan gilang gemilang.
Iri hati adalah dosa yang fatal. Iri hati adalah penyakit universal. Jika Brihaspati sendiri yang adalah orang yang bisa mengalahkan dewi pengetahuan saja bisa jatuh ke dalam iri hati, bagaimana dengan manusia biasa?