Oktober 7, 2007 pada 12:34 pm (Budaya)
Pernahkah anda mendengar huruf Batak Karo atau huruf Lontara? Mungkin sebagian besar generasi muda Indonesia tidak pernah melihat atau bahkan mendengar orang mendiskusikan mengenai huruf ini. Dalam dunia tipografi, sebelum masuknya huruf Latin atau huruf Arab di Indonesia kita sebenarnya sudah memiliki beberapa macam huruf yang sudah disesuaikan dengan budaya lokal masyarakat/sukunya. Misalnya, huruf Lontara (Bugis) banyak dipakai untuk membaca/menulis di kalangan suku Bugis. Suku-suku lain yang sudah memiliki huruf pada waktu itu, misalnya Batak (Batak Karo, Batak Mandailing, Batak Pakpak, Batak Simalungun dan Batak Toba), Jawa, dan Bali (lihat huruf lokal Indonesia untuk melihat contoh tipografi dari huruf-huruf lokal Indonesia masa lalu).
Konon, sebagian naskah kuno di masing-masing suku di Indonesia masih dalam bentuk bahasa dan tulisan ini. Keterbatasan kita akan membaca tulisan kuno ini menyebabkan penyelaman terhadap budaya “adhiluhung” masa lalu sangat sulit dilakukan. Sayangnya lagi kita telanjur senang dengan budaya impor…:-(. Budaya masa lalu, bagi generasi muda dianggap kuno atau orang sudah senang yang serba praktis… malas untuk belajar membaca huruf-huruf lokal. Akhirnya, kita tidak pernah dapat meneruskan tradisi lokal dari nenek moyang kita karena satu hal… i.e., kita BUTA HURUF. Jadi, anda jangan merasa bebas buta huruf sementara hanya mampu membaca huruf Latin dan huruf-huruf impor lainnya, he..he…
Btw, ketika saya berkunjung ke beberapa negara Asia yang memiliki huruf sendiri, seperti Thailand, Vietnam, Laos, Kamboja dan Jepang… betapa beratnya memilih menu makanan yang tersaji di restoran atau mencari nama jalan, karena untuk membaca huruf mereka saya menjadi BUTA HURUF. Mereka menulis keterangan jalan atau nama tempat dengan huruf lokal mereka. Berbeda dengan kita di Indonesia yang mungkin begitu modern-nya, sehingga generasi muda tidak PD (percaya diri) membaca huruf daerah sendiri, he..he… sorry, jangan tersinggung…
Sekarang ini huruf-huruf tersebut sudah tersedia dalam bentuk digitalnya (*.ttf atau True Type Font), sehingga tidak perlu bersusah-susah payah untuk menulis dengan huruf itu. Berkas *.ttf ini bisa didownload gratis dari internet. Selamat mencoba jika ingin mengenal budaya “adhiluhung” masa lalu.
& Komentar
Oktober 7, 2007 pada 12:30 pm (Budaya)
Beberapa tahun yang lalu, penulis membaca suatu berita di harian yang menyatakan bahwa tanggung jawab pendidikan adalah sepenuhnya pada sekolah dan pengajar, serta kegagalan pendidikan adalah karena ketidakmampuan sekolah/pengajar dalam mendidik siswanya. Ini ungkapan yang sering penulis baca di media masa. Bahkan, tidak jarang masyarakat kadang menghujat lembaga ini ketika putra/putri mereka gagal dalam menempuh pendidikan. Benarkah hanya lembaga ini yang harus bertanggung jawab? Dalam kasus IPDN mungkin ya, karena siswa 100% kesehariannya berada di kampus. Tetapi, bagaimana dengan sekolah/kampus yang tidak mengasramakan siswanya?
Karakter dan “bekal” siswa pada pendidikan seperti ini tidak melulu didapatkan di dalam sekolah/kampus. Mari kita hitung-hitungan waktu, berapa persenkah waktu siswa digunakan di sekolah? Murid SD masuk sekolah pukul 7.00 dan pulang pukul 12.00 (total 5 jam di sekolah), murid SMP mungkin lebih banyak… tetapi tidak lebih dari 6 jam di sekolah). Andaikan rata-rata jumlah jam sekolah murid SD – SMA adalah 6 jam maka waktu di sekolah hanya 30 jam per minggu (30/168 = 18%). Kalau waktu tidur disisihkan, maka kontribusi sekolah adalah 30/(168-56) = 27%. Jadi kontribusi sekolah pada keberhasilan siswa hanya 27%. Ketika mahasiswa jauh lebih kecil, karena beban SKS yang diambil rata-rata 22 SKS (lk 20%). Jadi, bolehkah kegagalan siswa hanya dibebankan pada sekolah/kampus?
Mari kita lihat teori pembagian pendidikan di Bali jaman dulu. Pendidikan sangat tergantung kepada guru/pendidik, karena merupakan central dari pendidikan. Di Bali dikenal ada empat jenis guru (catur guru), yaitu: guru rupaka (orangtua), guru pengajian (guru di sekolah), guru reka (pemerintah/masyarakat), dan guru swadhyaya (Sang Hyang Widhi atau Tuhan Yang Mahaesa). Jadi tanggung jawab pendidikan tidak bisa hanya dan hanya dibebankan pada satu macam guru saja (guru di sekolah). Mereka bukan lah tukang sulap yang pasti mampu menyulap siswa yang bodoh menjadi pintar dan sakti mandraguna. Namun, empat macam guru ini harus bersinergi dalam mendidik siswa. Paling tidak tiga macam guru yang pertama yang harus bertanggung jawab atas keberhasilan atau kegagalan siswa. Yang terakhir tergantung bagaimana siswa mendekatkan diri pada Tuhan untuk keberhasilannya dalam menempuh pendidikan.
Contoh yang sangat sederhana, seketat apapun aturan di sekolah ketika di rumah orangtuanya membiarkan anaknya ngedugem atau ikut kebut-kebutan bersama teman-temannya. Bagaimana pendidikan akan berhasil kalau orangtua yang seharusnya menjadi guru (guru rupaka) hanya membebankan tanggung jawabnya pada guru di sekolah? Contoh yang lain, di stasiun TV ada film dengan kode BO (Bimbingan Orangtua) tetapi orangtua tidak pernah menemani anaknya ketika si anak menonton film seperti ini. Ini contoh-contoh sederhana yang pasti terjadi di rumah yang orangtua-nya super sibuk, hik…
Demikian sekilas tentang guru yang harus kita banggakan, bukan dicaci-maki karena kegagalan siswanya.
Tinggalkan sebuah Komentar
Oktober 2, 2007 pada 3:03 pm (Iseng)
Anda pernah mendengar istilah “blog”? So pasti, bagi pecinta internet yang namanya blog pasti tidak asing lagi. Menurut Wikipedia Indonesia, blog didefinisikan sebagai sebuah aplikasi web yang memuat secara periodik tulisan-tulisan (posting) pada sebuah webpage umum. Posting-posting tersebut seringkali dimuat dalam urutan posting secara terbalik, meskipun tidak selamanya demikian. Situs web semacam itu biasanya dapat diakses oleh semua pengguna internet sesuai dengan topik dan tujuan dari si pengguna blog tersebut.
Namun, pernahkah anda mendengar istilah “belog”. Bagi orang Bali istilah itu tidak asing lagi, apalagi waktu masih kecil. Sedikit salah dibilang “belog”…, baik di rumah maupun di sekolah. Belog dalam bahasa Bali berarti bodoh. Ini bukan ungkapan untuk mengutuk seseorang menjadi belog, tetapi lebih dari itu… orang harus termotivasi ketika dibilang belog. Orang itu harus belajar lebih giat supaya hasil kerjanya menjadi lebih baik. Jadi, jangan masukkan sebuah ungkapan buruk ke dalam hati, apalagi menyimpannya lama-lama. Melainkan anggap ungkapan itu sebagai suatu motivasi bahwa kita bukan lah seperti apa yang di-”maki”-kan… atau buktikan pada yang mengatakan bahwa kita tidak seperti itu.
Hidup kadang menjadi ringan ketika kita berhasil mengendalikan hati dan perasaan, dan menjadi berat ketika hati dan perasaan berkeliaran tanpa kendali.
Demikian sekilap info…
Tinggalkan sebuah Komentar