Pantang-kekerasan (ahimsa)

Berpuasa tetap utama merupakan perbuatan pemujaan dan perbuatan kesaksian terhadap kebenaran universal. Berpuasa merupakan bagian dari dharma Hindu, dan oleh karenanya kesaksian India terhadap kebenaran-kebenaran religius yang terkandung dalam susunan dari kenyataan kosmis. Maka bagi Gandhi berbicara, menulis, berpuasa dan menjalankan perlawanan pantang-kekerasan (ahimsa) demi kaum Harijan serta kebenasan India adalah sekaligus memberi kesaksian atas kebenaran utama Hinduisme: “Kepercayaan bahwa SEMUA kehidupan (bukan hanya makhluk manusia melainkan semua makhluk berindera) adalah satu, yakni semua kehidupan yang berasal dari Satu sumber universal, sebutlah itu Allah, Tuhan atau Parameshwara…” (Thomas Merton (1990), dalam buku “Gandhi tentang pantang-kekerasan”)

Beberapa kutipan Gandhi

Tidak ada sama sekali batas besarnya pengorbanan yang dapat dilakukan untuk sampai pada penyatuan dengan hidup, akan tetapi pasti pula cita-cita yang demikian besarnya itu akan membatasi keperluan-keperluanmu. Inilah, akan engkau lihat, antitesis dari sikap peradaban modern, yang mengatakan, “Perbanyaklah keperluan-keperluanmu.” Mereka yang menganut keyakinan tersebut menganggap bahwa memperbanyak keperluan berarti memperbanyak pengetahuan, yang dengan pengetahuan itu akan dapat memahami Yang-Serba-Tak-Terbatas dengan lebih baik. Kebalikannya, Hinduisme melarang kegemaran dan pelipatgandaan keperluan, karena hal-hal itu menghalang-halangi pertumbuhan ke identitas akhir dengan Diri Universal.

Manusia tidak dapat bebas jika tidak mengetahui bahwa dirinya dikuasai oleh kebutuhan, sebab kebebasannya selalu dimenangkannya melalui upaya yang tidak pernah berhasil seluruhnya untuk melepaskan dirinya dari kebutuhan.

Prinsip-prinsip Pantang-Kekerasan

AHIMSA (pantang-kekerasan) bagi Gandhi merupakan hukum dasar bagi hidup kita. Itulah sebabnya mengapa Ahimsa dapat digunakan sebagai prinsip paling efektif untuk tindakan sosial, karena secara mendalam sesuai dengan kebenaran sifat alami manusia dan sesuai benar dengan keinginan bawaannya akan perdamaian, keadilan, ketertiban, kebebasan dan martabat pribadi. Oleh karena himsa (kekerasan) merendahkan dan merusak manusia, maka menghadapi kekerasan dengan kekerasan dan kebencian dengan kebencian hanya akan menambah parahnya kemerosotan secara progresif dari manusia. Pantang-kekerasan, kebalikannya, menyembuhkan dan memulihkan sifat alami manusia sembari memberikan kepadanya sarana bagi penyembuhan serta pemugaran ketertiban dan keadilan sosial.

Oleh karena ahimsa ada di dalam sifat alami manusia sendiri, maka hal itu dapat dipelajari oleh semuanya, walaupun Gandhi dengan berhati-hati menyatakan bahwa ia tidak mengharapkan setiap orang untuk mempraktekkannya dengan sempurna. Namun demikian, semua orang harus bersedia menanggung risiko dan taruhan bagi ahimsa, karena kebijakan kekerasan tidak saja telah membuktikan kebobrokannya tetapi juga mengancam manusia dengan kemusnahan.

Pantang-kekerasan mencakup pemurnian diri yang sesempurna mungkin bagi manusia. Bagi orang perorangan, kekuatan pantang-kekerasan adalah dalam proporsi yang tepat sesuai dengan kemampuan, bukan kemauan, dari penganut pantang-kekeraan untuk menimbulkan kekerasan. Kekuatan yang tersedia bagi penganut pantang-kekerasan selalu lebih besar daripada jika ia bersifat keras. Tidak ada kekalahan dalam pantang-kekerasan. [I-111]

Kepercayaan pada pantang-kekerasan didasarkan pada asumsi bahwa sifat alami manusia pada intinya adalah satu dan oleh karenanya pasti memberi tanggapan terhadap imbauan cinta-kasih … Teknik pantang-kekerasan tidak menggantungkan suksesnya pada kemauan baik para diktator, sebab seorang pejuang pantang-kekerasan menyandarkan diri pada pertolongan yang pasti dari Tuhan yang menopangnya selama kesulitan-kesulitan yang jika tanpa pertolongan itu akan dianggap tak teratasi. [1-175]

Jika seseorang tidak mempraktekkan pantang-kekerasan di dalam hubungan-hubungan pribadinya dengan orang lain dan berharap menerapkannya pada urusan-urusan yang lebih besar, maka ia keliru sekali … Kesabaran timbal-balik bukanlah pantang-kekerasan. Segera setelah engkau yakin bahwa pantang-kekerasan adalah hukum dari hidup, engkau harus mempraktekkannya terhadap mereka yang berlaku keras terhadap dirimu; dan hukum ini harus berlaku bagi bangsa-bangsa seperti berlakunya terhadap orang-perorangan. Jika keyakinan sudah ada maka hal-hal yang selanjutnya akan menyusul. [I-187]

(Pada pantang-kekerasan) keberanian terletak pada kematian, bukan pada pembunuhan. [I-265]

Manusia sebagai binatang adalah keras, tetapi sebagai jiwa tidaklah keras. Saat bangun kesadarannya akan jiwanya di dalam dirinya, maka ia tidak dapat bertahan keras. Ia akan maju ke arah ahimsa atau cepat-cepat akan menemui ajalnya. [I-311]

Pada pantang-kekerasan, massa mempunyai senjata yang memungkinkan seorang anak, seorang perempuan atau bahkan seorang tua jompo dengan berhasil menentang pemerintah yang paling berkuasa. Jika jiwamu kuat, kekurangan kekuatan jasmaniah saja bukan lagi merupakan rintangan. [II-41]

Prinsip pertama tindakan pantang-kekerasan adalah prinsip untuk tidak bekerja sama dengan segala sesuatu yang menghinakan. [II-53]

Melepaskan jiwanya untuk apa yang dianggap benar adalah intisari dari satyagraha. [II-58]

Pedang pelaku satyagrahi adalah cinta-kasih, dan keteguhan yang tidak tergoyahkan yang bersumber darinya. [II-59]

Syarat-syarat yang diperlukan bagi keberhasilan satyagraha adalah [II-61]:

  1. Sang satyagrahi harus tidak mempunyai rasa benci pada lawan.
  2. Urusannya harus yang benar dan penting.
  3. Sang satyagrahi harus bersedia menderita sampai akhir.

Akar satyagraha adalah di dalam doa. Seorang satyagraha mengandalkan Tuhan untuk perlindungannya terhadap kezaliman kekuatan kebinatangan. [II-62]

Tidak ada manusia yang dapat menghentikan kekerasan. Hanya Tuhan yang dapat berbuat demikian. Manusia-manusia hanya alat belaka di tangan-Nya … Faktor penentuannya adalah kemurahan Tuhan. Ia bekerja sesuai dengan hukum-Nya dan oleh karena itu kekerasan juga akan terhentikan sesuai dengan hukum tersebut. Manusia tidak mengerti dan tidak akan dapat mengerti sepenuhnya hukum Tuhan. Maka dari itu kita harus mencoba mengerti sekuat tenaga yang ada pada kita. [II-95]

Ahimsa adalah salah satu dari prinsip-prinsip besar dunia yang tidak satu pun kekuatan di dunia yang dapat menghapuskannya. Beribu-ribu orang sepertiku mungkin akan mati dalam usaha untuk mempertahankan cita-citanya, akan tetapi ahimsa tidak akan mati. Dan ajaran ahimsa hanya dapat disebarluaskan melalui mereka yang mempercayainya dan rela mati demi cita-citanya. [II-96]

Seseorang yang bersikap ahimsa, laki-laki maupun perempuan, akan harus mati tanpa balas-dendam, kemarahan atau kedengkian, dalam membela diri atau membela kehormatan kau wanitanya. Inilah bentuk keberanian tertinggi. Jika orang-perorangan atau segolongan rakyat tidak mampu atau tidak mau menganut hukum besar dari hidup ini (ahimsa), maka pembalasan atau perlawanan sampai gugur adalah bentuk keberanian terbaik yang kedua, meskipun di bawah yang pertama tadi. Perasaan pengecut menghendaki balas-dendam, akan tetapi oleh karena takut mati ia berpaling kepada lain-lainnya, mungkin kepada pemerintah yang sedang berkuasa untuk melindunginya. Pengecut derajatnya di bawah manusia. Ia tidak layak menjadi anggota masyarakat pria dan wanita. [II-148]

Intisari pelajaran religius yang benar adalah bahwa orang wajib melayani dan berteman dengan semua orang. Mudah saja berteman dengan teman-teman sendiri. Tetapi, berteman dengan yang menganggap dirinya sebagai musuhmu, itulah baru pokok dari intisari agama yang benar. Lain-lainnya hanya usaha (bisnis) belaka. [II-248]

Cilakrama III: Niyamabrata

Selain dari Yamabrata, Çilakrama menyebutkan juga Niyamabrata sebagai pokok isinya. Arti Niyamabrata tidak jauh berbeda dengan arti Yamabrata, kedua-duanya berarti pengendalian diri untuk mencapai kesempurnaan dan kesucian lahir batin, berupa Dharma dan Moksa.

Patanjali Yogasutra dan Yogasaranggraha Wijnana Bhiksu menyebut Niyamabrata itu terdiri atas: Tapa, Swadhyaya, Santosha, Sauca, Iswarapranidhana atau Iswarapujana.

Çaucasantosatapah swadhyayayi-
çwarapranidhananiniyamah

Tapah swadhayayasantosah
çaucam içwarapujanam,
samasan niyamah prokta
yogasiddhipradayinah

Tapa sebenarnya berarti panas atau memanaskan diri, yang maksudnya menyakiti diri atau mengurangi kesenangan atau kenikmatan duniawi. Swadhyaya berarti belajar sendiri atau mengulangi mata pelajaran. Santosha berarti selalu merasa puas dengan segala kejadian. Sauca artinya bersih lahir batin dan Iswarapranidhana artinya rajin menyembah sujud bakti dan menyerahkan kehidupan kepada Iswara yaitu Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang, Pelindung Keadilan (maksudnya, rajin sembahyang, Red).

Dalam lontar Çilakrama terdapat sloka sebagai berikut:

Akrodha guruçucrusa
çaucam aharalaghawam,
apramadaç ca pancaite
niyamah çiwabheasitah

Akrodha ngaranya tan kataman krodha, guruçucrusa ngaranya lot makareket ring guru, makanimitta hynnirengo warawarah sang guru, çauca ngaranya nitya çaucarcapa ring bhatara, aharalaghawa ngaranya tan barang-barang pinangan, apramada ngaranya tan paleh-paleh angabhyasa sang hyang kabhujanggan. Kalima ika niyamabrata ngaranya ling bhatara Çiwa.

Artinya: yang bernama akrodha (ialah) tidak suka marah, yang bernama guruçucrusa, ingin dekat dengan Guru karena ingin mendengar (pelajaran) Guru, yang bernama sauca selalu çaucarcana (mendoa, mohon kebersihan lahir batin) terhadap Tuhan. Yang bernama aharalaghawa, tidak sembarangan (makanan) dimakan, apramada namanya tidak segan-segan membiasakan ajaran kerohanian. Kelima itu, bernama Nyamabrata, sabda Bhatara Çiwa.

Komentar: Meskipun Niyamabrata menurut Patanjali maupun menurut Çilakrama sedikit berbeda, namun pada prinsipnya bertujuan sama, yaitu kesucian lahir batin. Kelima hal ini dapat meningkatkan konsentrasi seorang murid untuk belajar, apapun jenis pelajaran yang sedang ditempuhnya.

Cilakrama II: Yamabrata

Yamabrata adalah brata pengendalian diri untuk mencapai kesempurnaan rohani dan kesucian batin berupa Dharma. Yamabrata ini juga merupakan syarat jika serius belajar Yoga (diulas dalam Patanjali Yogasutra).

Ahimsa brahmacaryanca
satyam awyawaharikam,
astainyam iti pancaite
yama rudrena bhasitah

Ahimsa dan Brahmacari, Satya, Awyawahara, Astainya, kelima ini disebut Yama (Panca Yamabrata) oleh Dewa Rudra.

Ahimsa ngaranya tan pamati-mati
brahmacarya ngaranya tan ahyun arabya,
satya ngaranya tatan mityawacana,
awyawaharika ngaranya tan awiwada,
tan adol awelya, tan pagunadosa,
astainya ngaranya tan amaling-maling
tan angalap drewyaning lyan yan tan ubhaya

Artinya: ahimsa namanya tidak membunuh, brahmacari namanya tak mau beristri, satya namanya tidak berdusta, awyawaharika namanya tidak suka bertengkar, tidak berjual beli, tidak menunjukkan kecakapan dan berdosa, astainya artinya tidak mencuri, tidak mengambil milik orang lain bila tidak dapat persetujuan kedua pihak.

Namun dalam Wratisasana, suatu lontar yang juga menguraikan tata tertib dan kesusilaan aguron-guron, menyebutkan susunan yang agak berbeda dengan yang disebutkan di atas (Çilakrama yang mendasarkan pada lontar Wrhaspati Tattwa), sebagai berikut:

Ahimsah brahmacaryanca
satyam aharalaghawah,
nasteyaçca yamasapancah
rudrena parikirtitah

Artinya, Dewa Rudra menitahkan lima macam Yamabrata, yaitu ahimsa (tidak membunuh-bunuh), brahmacari (memelihara kemurnian dalam hal sex), satya (jujur), aharalaghawa (makan harus secukupnya, tidak semau-maunya saja), dan asteya (tidak melakukan penciruan, curang, dsb).

Cilakrama I: Gurubhakti

Gurubhakti merupakan bagian terbesar dari lontar Çilakrama, yang berarti sujud bakti dan sikap hormat para siswa kerohanian (Çisya) terhadap Guru yang mendidik pribadi dan mencurahkan ilmu pengetahuannya terhadap para siswa kerohanian itu. Selain aturan seperti yang dijelaskan pada kutipan Çilakrama tadi, disebutkan juga bahwa seorang sisya tidak diijinkan memutus-mutus pembicaraan Guru, harus menurut apa yang diucapkan Guru, bila Guru datang ia harus turun dari tempat duduknya, bila melihat Guru berjalan atau berdiri selalu mengikuti di belakang. Bila berbicara terhadap Guru tidak boleh menoleh kesebelah atau kebelakang supaya tekun menerima ucapan-ucapan Guru dan selalu menyahut dengan ucapan-ucapan yang menyenangkan hati (Manohara). Lagi terdapat suatu kewajiban bagi seorang sisya, walaupun bagaimana marahnya bila Gurunya menasehati hendaklah diturutkannya.

Ada tiga yang disebut sebagai guru, yaitu Gururupaka yang artinya orangtua, Gurupangajyan, guru yang memberi pendidikan dan ilmu pengetahuan untuk mendapatkan kesempurnaan, dan Guruwisesa, yaitu pemerintah yang menjadi abdi kesejahteraan tempat rakyat bernaung di waktu kesusahan. Di antara ketiga Guru tersebut, Gurupangajyan mendapat penghormatan yang lebih dari kedua Guru yang lain, karena Gurupangajyan adalah Guru yang tidak hanya memberikan kesejahteraan atau kebahagiaan jasmani, tetapi terutama memberikan kesejahteraan atau kebahagiaan rohani yang disebut Dharma, yaitu pendidikan suci berupa kebajikan dan kesucian laksana yang membuka pintu untuk mendapatkan kebahagiaan akhirat (sorga) dan penjelmaan yang baik kemudian terutama memberi jalan untuk mencapai tujuan hidup yang tertinggi yang disebut Moksa.

Komentar: aturan gurubhakti ini memang diperuntukkan bagi sisya yang belajar kerohanian pada seorang guru kerohanian (Acarya). Apa yang bisa kita petik pada jaman modern ini adalah sikap hormat dan penurut pada guru kita. Dengan hormat dan menuruti apa yang diperintahkan guru kita, apa yang ingin disampaikan guru kepada kita akan dapat kita serap secara maksimal. Contoh yang paling sederhana, jika seorang guru memberikan tugas kepada kita, dan kita kerjakan dengan serius tugas itu, kita akan dapat manfaat dari tugas itu… berbeda dengan kalau kita mengabaikan tugas itu, kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Jaman sekarang, hormat dengan cara tunduk-tunduk di hadapan guru kita mungkin sudah tidak sesuai, namun hormat dalam arti respek terhadap guru masih bisa kita gunakan sampai kapanpun. Guru yang saya maksud di sini adalah guru yang mempunyai dan berpedoman pada etika sebagai guru.

Cilakrama: tatakrama antara murid dan guru

Saat ini mungkin tidak banyak dari kita yang pernah mendengar atau mengetahui bagaimana seharusnya bersikap terhadap guru atau eks guru kita. Hubungan pergaulan yang semakin maju (entah lah apakah benar atau tidak), kebanyakan dari kita menganggap guru bak seorang teman, yang ketika kita kesal kepadanya kita memakinya. Apakah itu cara yang tepat untuk memperlakukan seorang guru?

Ada naskah kuno yang menguraikan tentang Çilakramaning aguron-guron, yang dikenal dengan nama Çilakrama. Çilakrama adalah naskah Jawa Kuno yang menguraikan kewajiban atau tata tertib seorang siswa (çisya) calon kerohanian atau calon pendeta yang hendak menerjunkan diri dalam hidup keagamaan untuk mencapai kesempurnaan hidup dan kesucian batin yang berupa kebajikan, keluhuran budi yang disebut Dharma untuk mendapatkan kebahagiaan akhirat, yaitu sorga dan penjelmaan yang sempurna, terutama untuk mencapai kebahagiaan rohani yang langgeng dan kebebasan roh dari penjelmaan yang disebut Moksa.

Dalam naskah Çilakrama diuraikan bagaimana seharusnya siswa menunjukkan sikap hormat atau sujud bhaktinya terhadap acarya atau gurunya dan pantangan-pantangan maupun keharusan lain yang harus mereka lakukan, hendaknya mereka dapat memahami ajaran-ajaran yang mereka terima, dan yang terpenting dapat selalu menjunjung tinggi Dharma dan Moksa itu. Naskah Çilakrama ini berisi empat bagian, yaitu Gurubhakti, Yamabrata, Niyamabrata, dan Guru dan Çisya.

Ini kutipan dalam naskah Çilakrama:

Nihan ta çililakramaning aguron-guron,
haywa tan bhakti ring guru, haywa himaniman,
haywa tan
çakti ring sang guru, haywatan sadhu tuhwa,
haywa nikelana sapatuduhing sang guru,
haywa angideki wayangan sang guru,
haywa anglungguhi palungguhaning sang guru.

Artinya: Inilah tatatertib berguru (menuntut ilmu), janganlah tidak bakti terhadap guru, janganlah mencaci-maki guru, jangan segan kepada guru, jangan tidak tulus, jangan menentang segala perintah guru, jangan menginjak bayangan guru, jangan menduduki tempat duduk guru.

Kalau kita baca naskah ini, kita bisa terapkan pada semua guru, tidak harus guru kerohanian seperti yang tertulis pada naskah asli Çilakrama ini. Kebaikan bisa kita peroleh jika kita menghormati guru atau eks guru kita. Apapun yang pernah dilakukan guru kepada kita, itu adalah demi kebaikan kita.

(disalin dan disunting kembali dari buku “Çilakrama” karangan Drs. I.B. Oka Punyatmadja, 1984 ditambah komentar pribadi).

Renungan Nitisastra

Pemimpin Negara yang tidak bijak dan adil
Pemimpin agama yang tidak menyejukkan umatnya
Ksatria yang tidak melindungi rakyatnya
Ilmuwan yang tidak jujur dan tidak memberikan kebaruan
Hartawan yang tidak bersifat dermawan
Ahli pengobatan yang tidak tulus mengobati
Masyarakat yang tidak santun dan disiplin
Tanah yang tidak subur
Lingkungan yang tidak bersih, tidak sehat, dan indah.
TIDAKLAH BERMANFAAT BAGI KEHIDUPAN MANUSIA.

Rajalah yang menerima dosa yang diperbuat oleh rakyatnya
Bagawantalah yang menerima dosa yang diperbuat oleh raja
Suamilah yang menerima dosa yang diperbuat oleh Istri
Ibulah yang menerima dosa yang diperbuat oleh anaknya
Gurulah yang menerima dosa yang diperbuat oleh murid.

(dikirim oleh Jero Mangku Sudiada)

Zameer (judul film)

Dalam hidup ada hal-hal yang kita sering kehilangan, tapi ada juga yang kita miliki. Dan mendapatkannya saat kita tak mengharapkannya.

Marah dan Tuhan

Percakapan antara Anjeli (A) dan Ram (A)

A: Kau percaya pada Tuhan?
R: Apa kau tak percaya?
A: Tidak
R: Kau tak percaya pada Tuhan?
A: Tidak
R: Kenapa?
A: Kita manusia hanya hambanya.. Dia yang kendalikan kita. Setiap saat dia bisa permainkan kita. Dan kita menari mengikuti isyaratnya.
R: Tidak, Anjeli. Dia orangtua kita.. dan orangtua tidak permainkan anak2nya. Meski anak2 tidak bersyukur pada-Nya. Tapi Tuhan tidak marah pada anak2nya.
A: Baiknya jangan beri harapan palsu.
R: Dengar, kau marah? Anjeli, kau cepat marah. Kukatakan satu hal.. bila kau marah, ingat satu kata2ku.. pejamkan matamu, tarik nafas panjang dan sebut kata AUM 3x. Lalu sebut nama Tuhan. Dalam sekejap marahmu lenyap.

Kebencian hanya bisa dimenangkan dengan cinta. Hanya dengan cinta. Kejahatan bisa dikalahkan dengan kebaikan. Keburukan bisa dilenyapkan dengan kebaikan. Dendam hati bisa dipadamkan dengan kedamaian. Kami tinggal di perkampungan manusia dan bisa tinggal sebagai manusia. Bukan sebagai hewan.

(dikutip dari film ”Dil ne yeh kahan”)

Ketika harapan tidak sesuai keinginan

Kata siapa kau kalah?
Kata siapa aku menang?
Apa sesama hanya meninggalkan itu saja?
Apa soal pertandingan dan permusuhan?
Kenapa kau anggap aku musuhmu?
Kenapa kau akui aku sebagai musuh?
Pernah kau dan Anjeli saling bertemu…
Dua insan kian mendekat, banyak melihat mimpi-mimpi indah…
Banyak membina mimpi-mimpi indah.
Tapi dalam sekejap…
Takdir menghancurkan impian-impian itu.
Takdir’kan tak kasihan padamu? Dia tak iba padamu.
Bagaimana aku membencimu dan menganggap kau musuhku?
Apa salahmu? Kesalahanmu adalah kau mencintai seseorang.
Kau hanya mencintai, bukan berbuat dosa’kan?
Kukatakan satu hal Dev, di dunia ini banyak insan…
Dan setiap insan ingin menuliskan nasibnya sendiri.
Tapi mereka tak mampu, karena yang menulis takdir adalah Tuhan.
Itu keputusan dan permainan-Nya. Itu takdir dan perjodohan.

(kutipan di film ”Dil ne yeh kahan”)

Rasa lapar bisa membuat manusia meninggalkan jalan kebenaran

Cerita musang berbulu emas pada saat Yudhistira melakukan upacara “aswamedha yajna” (kurban kuda). Jauh sebelum padang Kuruksetra menjadi medan perang antara Pandawa dan Kurawa, hiduplah seorang brahmana. Ia hidup dari mengumpulkan sisa-sisa panen yang tertinggal di tegalan. Keempat orang itu hidup dengan cara tersebut. Setiap sore, mereka duduk berempat dan menikmati makanan yang mereka peroleh selama sehari itu. Ketika tidak mendapatkan sisa panen, mereka akan berpuasa sampai sore hari yang kemudian. Mereka tidak pernah menyimpan apa pun yang mereka peroleh untuk hari berikutnya. Mereka menjalani disiplin unchhawritti yang ketat.

Demikianlah mereka menjalani hidup mereka. Suatu hari ketika musim kering datang dan kelaparan melanda seluruh penjuru negeri. Tidak ada lagi orang yang mengolah tanah dan oleh karena itu tidak ada yang membajak sawah atau panen. Pendeknya tidak ada lagi sisa panen di tegalan. Selama beberapa hari keluarga brahmana ini kelaparan. Suatu hari, setelah berkelana ke sana ke mari menahan lapar, mereka berhasil mendapatkan sekantong tepung jagung. Seperti biasanya mereka duduk bersama-sama dan berdoa mengucap syukur kepada Yang Maha Kuasa. Setelah itu mereka membagi apa yang mereka peroleh secara adil. Kemudian, mereka duduk bersiap untuk menuntaskan rasa lapar. Persis pada saat itu, seorang brahmana masuk. Tampaknya ia sangat kelaparan. Melihat ada tamu, mereka segera bangkit berdiri dan menerimanya dengan baik. Mereka mengajaknya untuk ikut makan. Keluarga brahmana yang berhati murni itu sangat bahagia kedatangan tamu seorang brahmana. Bagi mereka ini adalah keberuntungan. Kata sang brahmana, “Brahmana yang terhormat, aku hanyalah brahmana miskin. Tepung jagung ini kami peroleh sesuai dengan jalan dharma. Mohon pemberian ini diterima. Semoga engkau diberkati.” Katanya sambil mengulurkan jatah makannya. Tamu itu langsung menghabiskan makanan itu dengan lahap. Tapi ia masih tampak kelaparan.

Melihat tamunya masih kelihatan lapar, brahmana itu sangat sedih. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan ketika istrinya berkata, “Tuanku, berikan juga jatahku. Aku akan gembira jika tamu kita bisa merasa kenyang.” Setelah berkata demikian, ia berikan bagiannya kepada suaminya supaya diberikan kepada sang tamu.

Kata suaminya, “Istriku yang setia, binatang buas, burung-burung, dan semua binatang merawat istrinya dengan penuh perhatian. Apakah manusia bisa bertindak lebih buruk? Aku tidak bisa menerima usulanmu. Hukuman macam apakah yang akan kuperoleh di kehidupan yang akan datang jika aku biarkan kau kelaparan. Engkau telah membantu dan melayaniku untuk menjalankan tugas suci kehidupan rumah tangga. Bagaimana mungkin aku membiarkanmu menderita seperti itu dan berharap berbuat kebajikan demi memberi makan seorang tamu. Tidak, aku tidak bisa menerima usulanmu.”

Jawab istrinya, “brahmana suamiku, engkau terpelajar dalam kitab-kitab sastra. Bukankah dharma, artha, dan semua kegiatan manusia semuanya sama bagi kita berdua yang telah menjalani hidup bersama? Lihatlah padaku dengan pandangan kasih dan berikan bagianku kepada tamu kita. Biarlah aku lapar seperti halnya engkau. Aku mohon jangan tolak pemberian ini.”

Akhirnya brahmana itu mengalah. Ia terima bagian istrinya dan ia berikan kepada sang tamu. Tamu itu langsung menyikat habis makanan yang diberikan. Tetapi ia masih tetap lapar! Brahmana miskin itu sangat sedih. Melihat kesedihan ayahnya, sang anak mendekat dan katanya, “Ini bagianku. Berikan kepada tamu kita yang tampaknya masih kelaparan. Aku akan gembira jika kita bisa menunaikan kewajiban kita.”

Sang ayah bertambah sedih. “Anakku, orangtua masih bisa menahan lapar. Rasa lapar yang dialami anak muda jauh lebih tidak tertahankan. Hatiku sulit menerima pemberianmu ini.”

Sang anak bersikeras membarikan bagiannya, “Seorang anak wajib merawat orangtuanya yang beranjak tua. Anak tidak berbeda dengan orangtuanya. Bukankah dikatakan bahwa orangtua terlahir kembali dalam diri anak. Aku mohon ayah mau menerima ini dan berikan kepada tamu kita yang lapar.”

“Anakku terkasih, kau sungguh berhati mulia dan kemampuanmu menanggung derita membuatku bangga. Terberkatilah engkau. Baiklah, aku terima pemberianmu!” kata ayah itu. Ia segera berikan bagian anaknya itu kepada sang tamu. Sang tamu segera menuntaskan makanan itu. Ia masih saja kelaparan! Brahmana, yang hidup dari mengumpulkan sisa panen yang tercecer itu, kebingungan.

Sementara ia kebingungan, tidak tahu apa yang mesti dilakukan, menantu perempuannya mendekatinya dan berkata, “Ayah, aku akan berikan bagianku juga. Mohon diterima untuk melengkapi kewajiban kita memberi makan pada tamu. Aku mohon ayah berkenan menerima dan memberkati aku, putrimu, supaya aku mendapat ganjaran yang lebih abadi.”

Ayah yang brahmana itu sedih tidak terkira. Katanya, “Oh, anakku yang berhati mulia, meskipun wajahmu sudah pucat dan badanmu kurus seperti ini, engkau masih saja mau memberikan bagianmu kepadaku supaya aku bisa berbuat kebajikan pada tamu kita. Jika aku terima pemberianmu, aku akan berbuat kejam. Bagaimana mungkin aku membiarkanmu gemetar kelaparan?”

Sang menantu tidak mau mengindahkan. “Ayah, engkau adalah tuan dari tuanku, guru dari guruku, dewa dari dewaku. Aku mohon Ayah berkenan menerima makanan ini. Bukankah seluruh badanku telah kupersembahkan untuk mengabdi pada tuanku? Ayah harus membantuku untuk berbuat kebajikan. Ambilah makanan ini, aku mohon.”

Setelah didesak-desak, akhirnya brahmana itu mau menerima bagian menantu perempuannya. Katanya, “Anakku yang setia, semoga engkau mendapatkan ganjaran yang setimpal.”

Sang tamu menerima bagian terakhir itu dengan suka hati. Ia segera habiskan makanan itu dan ia kenyang! “Terberkatilah kebaikan hati kalian, yang kalian berikan dengan niat murni dan dengan segenap kemampuan kalian. Pengorbanan kalian sungguh membuatku senang. Lihatlah di sana! Para dewa menurunkan hujan bunga untuk memberikan pujian pada pengorbanan kalian yang luar biasa. Lihatlah! Para dewa dan gandarwa turun ke bumi dengan kereta-kereta kencana bersama para pelayan untuk menjemput kalian ke surga. Pengorbananmu mendapat ganjaran surga bagi kalian dan leluhur kalian. Rasa lapar menghancurkan akal sehat manusia. Rasa lapar bisa membuat orang berpikiran jahat. Bahkan orang yang saleh sekalipun, karena rasa lapar, bisa kehilangan ketabahan hati. Tapi engkau, bahkan ketika lapar mendera, masih bisa menanggalkan keterikatan pada istri dan anak dan tetap memilih jalan dharma. Upacara Rajasuya dan upacara kurban kuda yang dilaksanakan dengan megah akan tampak tidak berarti jika dibandingkan dengan pengorbanan yang kalian lakukan. Lihatlah, kereta kuda sudah menantikan kalian. Naiklah dan berangkatlah ke surga.” Setelah berkata demikian, tamu misterius itu menghilang.

« Entri lama